Logo Bloomberg Technoz

Tak hanya itu, Myrdal juga berpandangan rupiah yang terus melemah karena permintaan valas yang tinggi, khususnya untuk kebutuhan impor minyak dunia seiring harga minyak global yang menurun. 

“Di tengah tren pertumbuhan ekonomi yang kelihatannya sudah mulai bangkit, pasca-harga minyak yang turun, dan itu kelihatannya banyak mendorong permintaan untuk kebutuhan domestik ya, terutama yang berbasis barang impor,” ujarnya. 

Di sisi lain, Myrdal juga menilai masih terdapat kebutuhan valas yang digunakan untuk dividen. Menurutnya, level resistance atau target batas atas rupiah ada di level Rp18.240/US$. Angka tersebut menjadi acuan bank sentral diproyeksi akan menaikkan kembali BI Rate. 

“Rp18.240/US$ dan ini level yang menjadi penentuan karena kalau begitu sudah break kemudian di atas Rp18.300/US$ ini bisa jadi alarm untuk BI Rate naik itu kembali berbunyi lagi ya,” tuturnya. 

Meskipun inflasi energi dan impor tengah dalam tren penurunan, kata dia, BI masih harus fokus menjaga stabilitas makroekonomi domestik khususnya dari inflasi impor yang berasal dari pergerakan rupiah. 

Sekadar catatan, BI telah menaikkan BI Rate secara total sebesar 100 basis poin (bps) dengan perincian sebesar 50 bps pada RDG BI periode bulanan, 20 Mei 2026. 

Kemudian, bank sentral kembali mengerek suku bunga acuan 25 bps pada RDG mingguan atau biasa dikenal dengan istilah RDG insidentil, 9 Juni 2026. Terakhir, BI terus menjalankan kebijakan moneter ketat dengan meningkatkan BI Rate 25 bps pada 18 Juni lalu.

(lav)

No more pages