"Posisi keuangan perusahaan tergolong sangat sehat dan solid. Total aset mencapai Rp63,29 triliun dengan ekuitas Rp40,41 triliun. Yang menarik, posisi kas sebesar Rp9,04 triliun melebihi total utang Rp5,59 triliun sehingga ANTM berada dalam posisi net cash dengan risiko likuiditas yang sangat minim," katanya.
Ia menilai kekuatan fundamental tersebut belum sepenuhnya tercermin pada harga saham saat ini.
"Pada tingkat harga saham sekitar Rp2.920, valuasi ANTM tergolong atraktif. Current PE Ratio berada di level 5,15 kali, PE Ratio TTM 8,27 kali, Price to Book Value 1,81 kali, sedangkan EV to EBITDA sekitar 6 kali. Untuk perusahaan tambang dengan profitabilitas seperti ini, valuasinya masih relatif murah," ujarnya pekan lalu, saat harga saham ANTM diposisi tersebut, sekarang harga saham pada level Rp2.940 per unit.
Selain potensi kenaikan harga saham, Wahyu menilai dividend yield ANTM juga menjadi daya tarik tersendiri bagi investor.
"Dividend yield sebesar 7,19% dengan payout ratio sekitar 37% membuat saham ini tidak hanya menarik dari sisi capital gain, tetapi juga memberikan potensi pendapatan dividen yang kompetitif," kata dia.
UBS Tetap Rekomendasikan Buy
Pandangan serupa datang dari UBS dalam riset yang diterbitkan pada 10 Juni 2026. Bank investasi tersebut mempertahankan rekomendasi Buy untuk ANTM dengan target harga 12 bulan sebesar Rp6.050 per saham, atau sekitar 120% di atas harga penutupan Rp2.750 saat riset diterbitkan. Jika memperhitungkan dividen, UBS memperkirakan total potensi imbal hasil mencapai sekitar 129,5%.
UBS menilai hasil Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) ANTM sesuai ekspektasi. Perseroan menyetujui pembagian dividen sebesar 70% dari laba bersih atau setara Rp210 per saham, dengan dividend yield sekitar 7,6%. Menurut UBS, meskipun lebih rendah dari ekspektasi sebagian pelaku pasar, kebijakan tersebut tetap konsisten dengan proyeksi perusahaan.
Pergantian Chief Financial Officer (CFO) kepada Arini Kasmira juga dinilai tidak mengubah arah strategi bisnis maupun prospek jangka panjang ANTM.
Dalam proyeksinya, UBS memperkirakan pendapatan ANTM akan melonjak menjadi sekitar Rp162 triliun pada 2026 dengan laba bersih mencapai Rp13,3 triliun, hampir dua kali lipat dibandingkan realisasi 2025 sebesar Rp7,2 triliun. Laba bersih diproyeksikan terus meningkat menjadi Rp15 triliun pada 2027, Rp15,4 triliun pada 2028, Rp17,4 triliun pada 2029, hingga Rp19,6 triliun pada 2030.
Sejalan dengan pertumbuhan laba, dividen diperkirakan meningkat secara bertahap hingga mencapai sekitar Rp506 per saham pada 2030.
Peluang Rebound
Meski fundamental menguat, Wahyu menilai secara teknikal saham ANTM masih berada dalam fase konsolidasi setelah terkoreksi dari level tertingginya.
"Pergerakan harga saat ini masih berada di bawah MA50, MA100, dan MA200 sehingga tren jangka menengah masih cenderung bearish. Namun RSI berada di level 49,6 atau area netral, yang menunjukkan tekanan jual mulai mereda dan harga mulai stabil," ujarnya.
Ia memperkirakan peluang pembalikan arah mulai terbuka apabila harga mampu bertahan di atas level support.
"Outlook harga saham berpotensi mengalami reversal untuk menguji resistance terdekat di kisaran 3.260, dengan syarat mampu bertahan di atas support psikologis. Pemulihan harga komoditas akan menjadi katalis utama," kata Wahyu.
Untuk jangka pendek, Wahyu memperkirakan saham ANTM bergerak di kisaran 2.220-3.440, dengan target rebound di level 3.260. Sementara dalam jangka menengah, ia melihat peluang harga saham menuju 5.000, apabila didukung oleh pertumbuhan laba dan membaiknya sentimen komoditas.
Meski demikian, UBS mengingatkan sejumlah risiko yang perlu dicermati investor, mulai dari potensi pelemahan harga nikel global, kenaikan biaya energi, keterlambatan proyek hilirisasi, sengketa transaksi emas senilai sekitar Rp1,1 triliun, hingga keterbatasan pasokan listrik untuk mendukung ekspansi produksi feronikel. Namun, dengan kombinasi pertumbuhan laba, posisi keuangan yang kuat, dan valuasi yang masih rendah, baik UBS maupun Wahyu Laksono sama-sama melihat ANTM masih memiliki prospek positif dalam jangka menengah hingga panjang.
(tim)






























