Logo Bloomberg Technoz

Kedua pemimpin negara tersebut menerbitkan empat pernyataan bersama yang mencakup berbagai sektor, mulai dari keamanan maritim, kecerdasan buatan (AI), hingga ketahanan energi. Mereka juga mengonfirmasi penandatanganan lebih dari 100 perjanjian kerja sama antara pelaku bisnis Jepang dan India, termasuk komitmen kolaborasi di sektor semikonduktor, amonia, energi hijau, hingga proyek misi bersama ke bulan. Terdapat pula kesepakatan mengenai budidaya jamur shiitake dan buah stroberi di India.

"Jika berkaca pada sejarahnya, sebagian besar bisnis kedua negara bergerak di industri otomotif. Namun, sekarang sektornya jauh lebih beragam," tambah Hiramatsu. "Agar Jepang dan India bisa memperdalam hubungan di lini ekonomi, saya rasa penting bagi bisnis skala kecil dan menengah yang membangun rantai pasok, serta perusahaan pemilik teknologi baru, untuk masuk ke India. Dan tampaknya tren tersebut mulai berjalan saat ini."

Langkah ekspansi ini didorong oleh komitmen yang dibuat pada tahun 2025 lalu, di mana pemerintah Jepang berjanji akan mendorong perusahaan-perusahaan domestiknya untuk menggelontorkan investasi sekitar 10 triliun yen dalam kurun waktu sepuluh tahun ke depan. Berdasarkan keterangan resmi Kementerian Luar Negeri Jepang, dalam pertemuan tersebut Modi dan Takaichi mengonfirmasi bahwa korporasi Jepang saat ini telah bersiap menginvestasikan dana sekitar 2 triliun yen di India.

Dalam kunjungan ini, Takaichi turut didampingi oleh lebih dari 50 perwakilan bisnis papan atas Jepang, termasuk pemimpin dari Suzuki Motor Corp, raksasa otomotif yang selama ini meraup keuntungan melimpah dari India sebagai pasar terbesar mereka.

Dari pihak tuan rumah, konglomerat milik miliarder India, Gautam Adani, dikabarkan tengah mengincar pinjaman dalam denominasi mata uang yen senilai US$1,5 miliar sebagai bagian dari upaya nyata mereka melakukan dedolarisasi. Adani Group bahkan menyambut kedatangan Takaichi dengan memasang iklan satu halaman penuh di sejumlah surat kabar nasional, yang salinannya tersebar di lobi-lobi hotel bintang lima tempat delegasi Jepang menginap.

Kehadiran hubungan diplomatik yang erat ini juga memberikan keuntungan kompetitif bagi bank-bank raksasa Jepang—mulai dari Sumitomo Mitsui Financial Group hingga Mitsubishi UFJ Financial Group—yang saat ini tengah melakukan ekspansi besar-besaran yang belum pernah terjadi sebelumnya ke pasar finansial India.

Pertemuan bilateral ini digelar di saat kedua negara sama-sama tengah berupaya mendiversifikasi kemitraan dagang mereka demi mengurangi ketergantungan pada China dan AS, sekaligus di tengah upaya bersama menavigasi dampak ekonomi setelah perang Iran.

Takaichi menyampaikan pentingnya memetakan solusi bersama guna menangkal potensi guncangan geopolitik di masa depan, termasuk di antaranya dengan mengamankan pasokan energi dan teknologi serta membentengi perekonomian domestik dari guncangan eksternal.

"Japang dan India harus memanfaatkan kekuatan masing-masing untuk menjadi lebih kuat dan makmur bersama di tengah gejolak internasional saat ini," tegas Takaichi.

Kekhawatiran tersebut juga dirasakan oleh New Delhi. Pasokan minyak mentah India sempat terganggu akibat aksi blokade di Selat Hormuz beberapa waktu lalu, yang memberikan tekanan bagi momentum pertumbuhan ekonomi mereka.

Faktor China juga menjadi perhatian bersama bagi kedua negara, meskipun Tokyo dan New Delhi mengambil pendekatan yang berbeda dalam menghadapinya.

"Kedua negara, baik Jepang maupun India, sama-sama menginginkan stabilitas dan kemakmuran. Oleh karena itu, kita perlu bekerja sama untuk menciptakan lingkungan keamanan yang kondusif bagi pertumbuhan," jelas Deepa Gopalan Wadhwa, mantan Duta Besar India untuk Jepang, kepada Haslinda Amin dari Bloomberg News pada hari Jumat. "Kami memang berupaya memastikan bahwa seluruh negara di kawasan ini mematuhi aturan tertentu, dan itu juga mencakup China."

Hingga saat ini, India sebenarnya masih sangat bergantung pada China untuk pasokan mesin dan bahan baku industri—terutama komoditas logam tanah jarang (rare earths)—yang sangat krusial bagi ambisi manufaktur domestik mereka. Karenanya, India secara perlahan mencoba memperbaiki hubungan dengan Beijing. Sebaliknya, hubungan bilateral Jepang-China justru berada dalam fase yang sangat dingin bagi Takaichi, terutama setelah ia menyulut kemarahan Beijing pada bulan November lalu ketika berspekulasi mengenai potensi keterlibatan militer Jepang untuk membela diri jika China nekat menyerang Taiwan.

"Perluasan kerja sama keamanan maritim menjadi hal yang sangat penting bagi perdamaian dan stabilitas regional," pungkas Takaichi, seraya menambahkan bahwa Jepang dan India akan terus menggelar latihan angkatan laut bersama di Samudra Hindia. Hubungan antara India dan Jepang, lanjutnya, "kini telah menjadi jauh lebih penting dari sebelumnya."

(bbn)

No more pages