Logo Bloomberg Technoz

Adrianto menuturkan, pihaknya bersama Organda berharap ketika penerapan B50 dilakukan pemerintah juga ikut mengawasi dan mengevaluasi penerapannya dengan maksimal.

"Sebelumnya memang sudah dilakukan uji coba penerapan B50 yang mana kami ucapkan terimakasih sudah dilibatkan. Akan tetapi saat trial dilakukan, penyimpanan BBM tidak seperti yang ada di SPBU. artinya kualitasnya bisa saja berubah," ungkapnya

Ia menambahkan perlu pengawasan terhadap kualitas/ kondisi tangki penyimpanan SPBU sebab pemicu berubahnya kualitas B50 rentan mengalami perubahan kimiawi.

"Ini rentan terjadi perubahan kimiawi yang terkandung  di dalamnya dan hal ini berdasarkan penelitian beberapa ahli," pungkasnya.

Hal yang sama dikatakan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Organda, Kurnia Lesani Adnan yang mendukung penerapan B50 dengan pengawasan dan evaluasi di lapangan. Di sisi lain, ia meminta pemerintah bisa memastikan ketersediaan pasokan bahan bakar solar untuk angkutan armada bus.

Menurutnya, persoalan yang lebih mendesak adalah menjamin ketersediaan solar di seluruh wilayah Indonesia.

"Kami bukan meminta B50 diundur. Yang lebih penting bagi kami adalah solar itu ada. Setiap saat, di mana pun ada SPBU, kami bisa membeli solar," ungkap Sani sapaan akrabnya.

Organda menilai, antrean panjang di SPBU akibat kuota solar yang cepat habis kerap menyebabkan kemacetan hingga berjam-jam, terutama di jalur lintas Sumatera.

"Sampai saat ini BBM subsidi masih menjadi masalah di daerah,terutama di daerah sumatera,kalimantan,sulawesi,bali dan papua. Yang menjadi masalah saat ini masih banyak barcode yang terpending dan saat diajukan selalu di tolak. Kami berharap kondisi seperti ini bisa menjadi perhatian serius pemerintah," pungkas Sani.

Sekadar informasi, PT Pertamina Patra Niaga menyatakan kesiapan 126 terminal bahan bakar minyak (BBM) untuk dapat menyalurkan BBM campuran solar dan bahan bakar nabati berbasis sawit 50% atau biodiesel B50 mulai hari ini, 1 Juli 2026.

“Seluruh terminal BBM Pertamina Patra Niaga yang berjumlah 126 unit telah siap mendistribusikan B50 mulai 1 Juli 2026,” tutur Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga (PPN) Roberth MV Dumatubun saat dihubungi, Rabu (1/7/2026).

Nantinya, B50 akan didistribusikan ke seluruh stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) dan agen penyalur minyak solar (APMS) milik Pertamina melalui produk Biosolar dan Dexlite secara bertahap sesuai dengan arahan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Roberth mengatakan, sebagai awalan, perseroan akan mendistribusikan B50 sebanyak 37,92 juta liter B50 pada 1 Juli 2026. Dia juga menambahkan ke depannya, PT PPN akan menyalurkan B50 hingga mencapai 87,27 juta liter per hari untuk skala nasional.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan implementasi mandatori biodiesel B50 berlaku pada Juli. Nantinya, peresmian program tersebut bakal dilakukan secara terpisah oleh Presiden Prabowo Subianto.

“B50 itu peresmiannya emang rencananya pada awal Juli, tetapi kayaknya enggak tanggal 1 nanti menunggu jadwal Presiden, karena kan diresmikan langsung oleh Presiden tentunya,” ungkap Juru bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Selasa (30/6/2026).

Ia juga mengatakan BBM jenis diesel dengan campuran FAME 50% itu bakal tersedia secara bertahap mulai 1 Juli 2026, nantinya stok produk B40 juga masih dapat dipasarkan selama masa transisi selama 3 bulan.

“Rencananya akan di-launching [B50] di salah satu SPBU, untuk langsung diimplementasikan nanti serentakkan di seluruh SPBU ada beberapa yang akan diresmikan,” tambah Anggia. 

(ain)

No more pages