Diameter atau ukuran dari tabung CNG 3 kg tersebut belum dipublikasikan oleh Lemigas. Namun, tabung berukuran 3 kg tersebut terlihat cukup mudah untuk diangkat atau dibawa masyarakat.
Jika dibandingkan dengan tabung LPG 3 Kg atau Gas Melon, tabung CNG 3 kg memiliki desain yang berbeda. Pada tabung LPG 3 Kg, struktur terdiri atas pegangan tangan atau hand guard, cincin leher atau neck ring, badan tabung berbahan baja, dan cincin kaki atau foot ring.
Adapun, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman sempat meninjau langsung fasilitas pengujian tabung yang berada di laboratorium Koordinator Pengujian Pengolahan Gas Bumi Lemigas.
Selain Laode, kunjungan tersebut turut dihadiri perwakilan dari PT Pertamina (Persero), PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk atau PGN, PT Pertamina Patra Niaga, PT Gagas Energi Indonesia, PT Pindad, serta PT Genko.
Dalam kesempatan sebelumnya, Laode sempat mengungkapkan CNG Merah Putih bakal menggunakan tabung CNG tipe 4, yakni tabung dengan bahan plastik atau polimer dan dibungkus dengan komposit serta fiberglass.
Laode juga memastikan penggunaan CNG dalam tabung 3 kg untuk kebutuhan rumah tangga tidak memerlukan penggantian kompor. Dengan begitu, kompor LPG yang saat ini digunakan masyarakat dapat langsung menggunakan CNG.
Dia memastikan masyarakat tak perlu menyesuaikan kompor yang dimiliki dengan memasang pengonversi (converter) atau alat lainnya.
“Dan apinya lebih panas juga, apinya tetap lebih biru malah kalau saya perhatikan seperti itu. Nah, itulah yang sekarang makanya Lemigas dalam setiap tahapan-tahapan uji tabung kita lakukan, kemudian uji tekan, dan lain-lain ini memang faktor yang paling penting,” kata Laode dalam diskusi publik di kawasan Jakarta Selatan, Selasa (5/5/2026).
Laode juga menyebut Kementerian ESDM akan mengimpor 100.000 unit tabung CNG 3 kg dari China. Langkah tersebut dilakukan lantaran industri dalam negeri belum mampu memproduksi tabung CNG 3 kg.
"Kan ini teknologinya tinggi. Saat ini yang mampu membuat teknologi itu di luar ya, kita belum," ujarnya di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (18/5/2026).
"Iya [impor dari China], seperti itu tahap awal ya," tambahnya.
Di sisi lain, Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Bumi Indonesia (Aspermigas) menyebut komponen utama dari tabung CNG 3 kg akan mendorong lonjakan harga 10 hingga 20 kali lipat dari tabung LPG 3 Kg yang berbahan dasar pelat baja biasa.
"Harga tabung carbon fiber itu bisa 10 hingga 20 kali lipat lebih mahal dari harga tabung LPG saat ini. Bayangkan berapa besar subsidi yang harus digelontorkan pemerintah hanya untuk pengadaan tabungnya saja?” kata Ketua Bidang Investasi dan Kerjasama Aspermigas Moshe Rizal saat dihubungi, Selasa (26/5/2026).
Menurut Moshe, tingginya tekanan CNG menuntut material tabung dan regulator yang sangat khusus. Jika menggunakan besi biasa, tabung harus dibuat sangat tebal sehingga bobot tabung akan jauh lebih berat daripada isi gasnya.
Walhasil, pilihan terbaik untuk tabung CNG adalah material yang ringan, tetapi tetap kuat seperti serat karbon. Namun, teknologi ini memiliki konsekuensi biaya produksi yang sangat mahal.
Secara volume energi, Moshe menjelaskan CNG membutuhkan ruang penyimpanan yang 2,5 kali lebih besar daripada LPG untuk menghasilkan jumlah kalori panas yang sama.
“Ketika gas tersebut dipaksa masuk ke dalam tabung portabel rumah tangga, tekanan harus dinaikkan hingga puluhan kali lipat dari LPG. Lonjakan tekanan inilah yang mengubah prasyarat material menjadi sangat mahal dalam hal ini carbon fiber,” jelasnya.
Adapun, berdasarkan data Ditjen Migas Kementerian ESDM, CNG memiliki tekanan cukup tinggi; yakni sekitar 200 hingga 250 bar atau sekitar 3.000—3.600 psi.
LPG memiliki tekanan jauh lebih rendah, berkisar 5 hingga 10 bar (untuk tabung rumah tangga) hingga maksimal sekitar 18—24 bar. Lalu, LNG memiliki tekanan yang paling rendah, umumnya hanya sekitar 2 hingga 10 bar.
(azr/wdh)
































