"Rusia sengaja menargetkan bangunan tempat tinggal dan infrastruktur sipil," ujar Sybiha dalam sebuah unggahan di platform X. "Serangan semacam ini merupakan kejahatan perang yang serius dan kami sedang menginformasikan hal ini kepada semua mitra serta organisasi internasional, sembari menyerukan pertanggungjawaban dan respons yang tegas."
Kementerian Pertahanan Rusia melalui pernyataan resmi di Telegram pada hari Kamis mengonfirmasi bahwa pihaknya telah "melancarkan serangan masif" ke arah Kyiv dan wilayah sekitarnya. Rusia berdalih gempuran tersebut membidik kompleks industri pertahanan dan fasilitas energi kota, serta diklaim sebagai bentuk aksi balasan atas serangan-serangan Ukraina ke wilayah Rusia sebelumnya.
Sebelumnya, Kementerian Pertahanan di Moskow juga melaporkan bahwa Ukraina kemungkinan telah menggunakan rudal balistik untuk pertama kalinya. Klaim itu muncul setelah militer Rusia mengaku berhasil menembak jatuh apa yang mereka sebut sebagai "rudal taktis-operasional jarak jauh" dalam sehari terakhir, di samping melumpuhkan tujuh bom berpemandu dan 602 drone bersayap tetap (fixed-wing drones).
Meskipun pada fase awal perang sinyal peringatan rudal sebagian besar hanya berbunyi di wilayah Rusia yang berbatasan langsung dengan Ukraina serta wilayah pendudukan militer Moskow, situasi kini telah berubah. Berdasarkan analisis Bloomberg terhadap laporan otoritas regional, wilayah-wilayah yang menjadi tempat tinggal bagi lebih dari 70% total populasi Rusia kini setidaknya sudah pernah membunyikan alarm peringatan serangan udara minimal satu kali.
Terkait dinamika ini, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menegaskan bahwa Kyiv akan terus meningkatkan tekanan terhadap pemimpin Rusia Vladimir Putin agar bersedia masuk ke meja perundingan damai setelah konflik bersenjata ini berjalan selama lebih dari empat tahun.
(bbn)































