Logo Bloomberg Technoz

"Indonesia sudah memiliki HPAL dan akan segera memiliki manufaktur sel baterai. Mata rantai yang tersisa adalah pCAM dan katoda. Justru di sinilah investasi seperti Pure Battery Technologies menjadi krusial untuk melengkapi ekosistem baterai yang terintegrasi penuh," kata Todotua dalam siaran pers, Kamis (2/7/2026).

Menurut Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, kehadiran investasi tersebut akan melengkapi rantai nilai industri baterai nasional mulai dari nikel, MHP, pCAM, katoda, hingga sel baterai.

Langkah tersebut juga diharapkan memperkuat daya saing Indonesia sebagai pusat ekosistem kendaraan listrik.

“Pemerintah menilai investasi pada fasilitas pCAM menjadi penting karena mampu menjawab kesenjangan rantai pasok di tahap midstream sekaligus mengoptimalkan nilai tambah yang selama ini belum sepenuhnya dinikmati di dalam negeri,” ungkapnya.

Saat ini, tahapan prekursor baterai masih menjadi mata rantai industri yang belum dikembangkan di Indonesia.

Segmen tersebut padahal merupakan salah satu titik penciptaan nilai tertinggi dalam rantai industri nikel, di mana nilai material dapat meningkat signifikan dari MHP menjadi perkursor baterai.

Dengan pengembangan industri pCAM di dalam negeri, nilai tambah tersebut diharapkan dapat dinikmati di Indonesia, bukan di luar negeri.

Adapun, Direktur IIPC Sydney Leidy Surianingrat menegaskan pihaknya akan terus memfasilitasi proses tindak lanjut investasi tersebut, termasuk koordinasi dengan calon mitra strategis.

"IIPC Sydney berkomitmen untuk terus memfasilitasi perjalanan investasi Pure Battery Technologies di Indonesia, dengan menghubungkan perusahaan ke pemangku kepentingan pemerintah dan mitra strategis yang relevan, serta mendukung langkah-langkah selanjutnya menuju realisasi proyek," ujar Leidy.

Selain membahas pengembangan proyek, kedua belah pihak juga melanjutkan pembahasan terkait dengan pendirian badan hukum PBT di Indonesia, opsi lokasi fasilitas produksi, serta skema pembiayaan dan peluang kemitraan strategis di sektor pertambangan dan pengolahan nikel.

Melalui kolaborasi antara Pemerintah Indonesia, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, IIPC, serta Pure Battery Technologies, proyek pCAM diharapkan dapat menjadi langkah konkret dalam memperkuat rantai pasok industri baterai kendaraan listrik nasional dari hulu hingga hilir sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pemain utama dalam ekosistem baterai global.

Sebagai catatan, berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, pemerintah secara agresif mengawal realisasi rantai pasok baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) dari hulu hingga ke hilir. 

Adapun, realisasi konkret yang saat ini sudah berjalan pada sejumlah pabrik pengolahan nikel berbasis HPAL di berbagai kawasan industri, seperti Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Sulawesi Tengah dan Pulau Obi di Maluku Utara.

Smelter-smelter HPAL ini memproses bijih nikel kadar rendah menjadi MHP. MHP inilah yang menjadi bahan baku paling krusial untuk diekstrak kembali menjadi nikel sulfat dan kobalt sulfat, komponen utama dalam pembuatan prekursor baterai.

Melangkah lebih jauh ke hilir, proyek raksasa ekosistem baterai terintegrasi hasil kerja sama antara BUMN melalui Indonesia Battery Corporation (IBC), PT Aneka Tambang Tbk (Antam), dan raksasa teknologi China (Consortium CATL/CBL) di Karawang, Jawa Barat, berjalan sesuai jadwal. 

Rangkaian investasi ini mencakup enam usaha patungan atau joint venture (JV) yang mengintegrasikan tambang, smelter, hingga lini manufaktur material baterai—termasuk katoda dan prekursor ternary

Melalui pengawalan investasi yang terintegrasi ini, BKPM memproyeksikan Indonesia mampu mengkonversi nilai tambah nikel hingga 67 kali lipat saat berhasil memprosesnya secara utuh menjadi komponen baterai EV siap pakai.

(smr/wdh)

No more pages