Pembagian dividen tersebut ditopang oleh kinerja operasional dan keuangan perseroan yang tetap bertumbuh sepanjang 2025.
BREN mencatatkan pendapatan konsolidasian sebesar US$605 juta, naik 1,4% dibandingkan tahun sebelumnya. EBITDA tercatat US$518 juta dengan margin EBITDA mencapai 85,6%, sementara laba bersih setelah pajak meningkat 6,5% menjadi US$165 juta.
Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik 8,3% menjadi US$132 juta.
CEO BREN, Tan Hendra Soetjipto mengatakan perseroan kembali membukukan kinerja yang solid berkat kontribusi kuat portofolio panas bumi.
"Kami dengan senang hati melaporkan kembali kinerja yang solid pada tahun 2025, didukung oleh kontribusi yang kuat dan konsisten dari portofolio panas bumi kami," ujar Hendra.
Ia menambahkan, sepanjang tahun lalu perseroan berhasil menyelesaikan proyek retrofit Salak dan memperoleh kontribusi dari Unit Binary Salak yang memperkuat kapasitas pembangkit panas bumi.
Menurutnya, pengelolaan biaya yang disiplin serta penurunan beban bunga setelah optimalisasi utang juga berhasil meningkatkan margin dan profitabilitas perusahaan.
"Kami tetap fokus untuk melanjutkan proyek-proyek ekspansi serta memperkuat portofolio kami," kata Hendra.
Secara operasional, BREN menyelesaikan proyek retrofit Salak yang menambah kapasitas sebesar 7,7 MW, sehingga total kapasitas terpasang bruto pembangkit listrik panas bumi mencapai 910 MW pada akhir 2025.
Perseroan juga menuntaskan dua sumur eksplorasi di prospek Hamiding yang mengonfirmasi potensi sumber daya sekitar 55–60 MW. Ke depan, BREN menargetkan proyek Salak Unit 7 dan Wayang Windu Unit 3 mulai beroperasi komersial pada akhir 2026 sehingga kapasitas panas bumi perseroan diproyeksikan melampaui 1 GW.
(cpa/naw)






























