Logo Bloomberg Technoz

Negara yang memiliki defisit transaksi berjalan dan ketergantungan tinggi terhadap aliran dana asing, seperti Indonesia, tekanan ini berpotensi lebih besar daripada negara yang memiliki fundamental eksternal lebih kuat, seperti Malaysia, atau Singapura. 

Bagi Indonesia, pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan tekanan pasar obligasi domestik. Kemarin, pasar obligasi cenderung bullish dengan aksi beli di hampir semua tenor.

Pagi ini, pergerakan pasar obligasi masih beragam. Aksi jual terlihat pada tenor 1,2,3 tahun dan tenor 5 tahun yang mencatat kenaikan yield paling tajam 22,3 bps ke 7,2%. 

Dalam jangka pendek, level psikologis Rp18.000/US$ akan kembali jadi area yang terus diuji pasar. Apabila inflasi AS tetap bertahan di atas 4% dalam beberapa bulan ke depan dan yield US Treasury 10 tahun mendekati 5%, tekanan terhadap mata uang Asia, termasuk rupiah, berpotensi berlanjut. 

Namun, bank sentral AS mengirim sinyal akan mengembalikan angka inflasi ke jalur target dengan mengambil langkah lebih hawkish. 

Sebagai catatan, yield US Treasury 10 tahun naik 0,8 bps ke 4,5%, tenor 20 tahun naik 2,4 bps ke 4,87%, dan tenor 30 tahun naik 2,7 bps ke 4,86%. 

Analisis Teknikal

Analisis Teknikal Rupiah Jumat 26 Juni 2026 (Sumber: Bloomberg)

Secara teknikal, rupiah masih ada risiko melemah. Target pelemahan terdekat menuju level Rp17.950/US$ yang merupakan support pertama dengan target pelemahan kedua berpotensi tertahan di level Rp18.000/US$.

Selama nantinya nilai rupiah bertengger di atas level psikologis tersebut usai tertekan, maka masih ada kemungkinan untuk lanjut melemah hingga mencapai Rp18.100-18.200/US$.

Sementara itu, trendline sebelumnya pada time frame harian menjadi resistance psikologis potensial di level Rp17.900/US$. Kemudian, target penguatan lanjutan ada di Rp17.800/US$.

(riset/aji)

No more pages