Logo Bloomberg Technoz

Naiknya penyerapan oleh BI disebabkan oleh pergerakan rupiah yang kian volatil pada awal pekan. Rupiah kembali tercatat melemah dan berada di kisaran Rp17.960/US$. 

Namun Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, menilai pada lelang sebelumnya hanya sebagian kecil penawaran yang memenuhi syarat, sebab BI hanya menerima penawaran hingga 7,75%, sementara investor mengajukan yield 7,7% hingga 8,69%. 

Pada lelang kemarin, investor mengajukan penawaran yang lebih rendah yakni berkisar 7,3% hingga 8,5%. Sehingga, meskipun BI hanya sedikit menurunkan batas penerimaan jadi 7,74%, Lionel menyebut lebih banyak penawaran yang berada di bawah batas tersebut. "Maka penawaran yang bisa dimenangkan lebih banyak," sebut Lionel kepada Bloomberg Technoz

Hal ini berdampak pada penurunan yield SRBI di seluruh tenor. Penurunan paling tajam terjadi di tenor 6 bulan, turun 5,99 bps menjadi 7,36%, tenor 9 bulan turun 0,97 bps menjadi 7,54%, sementara tenor 12 bulan turun 4 bps menjadi 7,7%. 

Meski sedikit terpangkas, sejatinya yield SRBI tenor 12 bulan masih lebih tinggi daripada SUN tenor 10 tahun. Minat investor pada SRBI cenderung tinggi lantaran menawarkan yield yang lebih kompetitif dalam jangka waktu yang lebih pendek daripada SUN. 

Namun, prospek kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) masih cenderung hawkish, dengan proyeksi kenaikan Fed Fund Rate (FFR) dua kali secara bertahap pada Oktober dan Desember. Dalam skenario ini imbal hasil surat utang pemerintah AS berpotensi naik, dan berisiko mengalihkan arus modal dari pasar negara berkembang ke aset dolar AS. 

(dsp/aji)

No more pages