Valuasi IHSG saat ini sudah terbilang relatif murah. Berikut gambaran valuasi sejumlah bursa saham utama Benua Kuning:
| No | Bursa Saham | Valuasi PBV | PER |
| 1 | TW Weighted Index (Taiwan) | 4,42 x | 22,63 x |
| 2 | NIKKEI 225 (Jepang) | 3,23 x | 24,34 x |
| 3 | SENSEX (India) | 3,08 x | 19,64 x |
| 4 | KOSPI (Korea Selatan) | 2,41 x | 9,27 x |
| 5 | Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam) | 2,13 x | 13,44 x |
| 6 | Straits Times (Singapura) | 1,67 x | 16,21 x |
| 7 | KLCI (Malaysia) | 1,59 x | 14,88 x |
| 8 | Shanghai Composite (China) | 1,59 x | 14,59 x |
| 9 | IHSG | 1,55 x | 9,19 x |
| 10 | SETI (Thailand) | 1,43 x | 15,9 x |
| 11 | PSEI (Filipina) | 1,24 x | 9,23 x |
Sumber: Tim Riset Bloomberg Technoz, Bloomberg data 25 Juni 2026
Meski valuasi IHSG yang sudah terbilang atraktif, tetapi risiko ketidakpastian masih menyelimuti pasar saham Indonesia. Pada pengumuman terbaru, MSCI memberikan catatan mengenai transparansi free float dan indikasi praktik perdagangan yang terkoordinasi.
Jika tidak ada perbaikan signifikan hingga November, maka MSCI membuka peluang menurunkan status Indonesia menjadi Frontier Market. Hal ini berpotensi memicu pelemahan IHSG, mengutip riset Mirae Asset Sekuritas Indonesia.
Mirae Asset juga menyebut risiko pasar masih menahan minat investor asing. Dengan forward P/E sebesar 9,5 kali, dibanding rata–rata Emerging Markets (EM) sebesar 12,2 kali, Indonesia termasuk salah satu pasar dengan valuasi paling murah.
“Namun, valuasi yang murah saja belum cukup menarik kembali minat investor asing selama risiko terkait kemungkinan perubahan klasifikasi pasar masih belum sepenuhnya terselesaikan,” sebut Mirae Asset.
Karena risiko yang bersifat binary tersebut hanya ditunda, bukan benar-benar dihilangkan, maka diprediksi kembalinya minat investor akan bersifat selektif, bukan menyeluruh. Banyak pengelola dana aktif (active funds) kemungkinan akan tetap mempertahankan posisi underweight terhadap Indonesia hingga tinjauan MSCI pada November.
(fad/aji)




























