“Kami melihat probabilitas reklasifikasi ke frontier market relatif rendah dalam waktu dekat, mengingat ukuran dan likuiditas pasar Indonesia masih memadai untuk mempertahankan status emerging market,” tulis Samuel Sekuritas Indonesia dalam risetnya pada Rabu (24/6/2026).
SSI juga mencatat bahwa MSCI saat ini masih memberlakukan penghentian sementara (freeze) terhadap penambahan saham baru dari Indonesia ke dalam indeks. Kondisi tersebut membuat sejumlah emiten yang telah memenuhi persyaratan belum dapat masuk ke indeks MSCI.
“Beberapa perusahaan Indonesia sebenarnya sudah memenuhi persyaratan kuantitatif untuk masuk indeks MSCI,” lanjut riset tersebut.
Sementara itu, praktisi pasar modal, Hans Kwee menyatakan bahwa penurunan pada satu indikator aksesibilitas tidak serta-merta mengubah klasifikasi pasar secara keseluruhan.
Menurut Hans, risiko penurunan status Indonesia ke frontier market tetap ada, namun perubahan tersebut masih tertahan selama indikator utama seperti ukuran dan likuiditas pasar tetap terpenuhi.
“Penurunan satu kriteria aksesibilitas tidak dapat memicu reklasifikasi posisi Indonesia dari emerging market ke frontier market,” kata Hans.
Ia menambahkan, Indonesia masih mencatat mayoritas indikator aksesibilitas pada level tinggi dibandingkan sejumlah negara berkembang lain. Dari sisi ukuran dan likuiditas, jumlah saham yang memenuhi kriteria juga berada di atas ambang minimum yang dipersyaratkan MSCI.
(dhf)




























