Logo Bloomberg Technoz

Dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, AirAsia tercatat berhasil memperoleh keuntungan hingga mampu melunasi seluruh utangnya lewat ubah metode menjadi maskapai LCC yang cocok di kawasan Asia Tenggara.

Sejak saat itu, perusahaan mulai ekspansi dan memulai membuka afiliasi dari berbagai negara kawasan Asia Tenggara mulai kurun waktu 2003 hingga 2010 ke Thailand, Indonesia, Filipina, hingga Kamboja. Ini juga sekaligus menjadikannya salah satu maskapai murah terbesar di dunia.

Berdasarkan data internal perusahaannya, AirAsia telah melayani lebih dari 900 juta penumpang dan menghubungkan sekitar 150 destinasi. Armada pesawat dari semula hanya dua menjaid berkembang hingga mencapai 250 pesawat.

Awal mula kejatuhannya terjadi saat masa pandemi Covid 19 pada 2020, yang menghentinkan hampir seliruh perjalan udara Internasional, dan membuat perusahaan kembali mengalami kerugian dan beban utang besar.

Kerugian grup mencapai miliaran ringgit dan induk usaha AirAsia, Capital A, masuk kategori PN17 di Bursa Malaysia, status yang diberikan kepada perusahaan yang mengalami tekanan finansial serius, berdasarkan laporan Reuters saat itu.

Tenggelam dalam Kerugian Triliunan

Khusus perusahaan yang beroperasi di Indonesia, dalam laporan keuangannya, PT AirAsia Indonesia Tbk (CMPP) membukukan kerugian pada tahun buku 2025, dengan kerugian bersih mencapai sebesar Rp1,29 triliun.

Tekanan terbesar berasal dari biaya bahan bakar yang mencapai Rp3,16 triliun. Meski tururn sekitar 8,2% secara tahunan, perusahaan masih memiliki beban biaya perbaikain dan pemeliharaan sebesar Rp2,06 triliun yang melonjak sekitar 24,6% dari tahun sebelumnya.

Lebih mengkhawatirkan adalah kondisi neraca perusahaan. Total aset AirAsia Indonesia pada akhir 2025 hanya Rp5,05 triliun, sedangkan total liabilitas mencapai Rp15,79 triliun. Dengan kata lain, perusahaan masih mencatatkan ekuitas negatif sekitar Rp10,73 triliun.

Di sisi holding global, kinerja saham AirAsia X Bhd yang berbasis di Malaysia tersebut pernah  kehilangan hampir setengah dari kapitalisasi pasarnya pada akhir kuartal pertama tahun ini atau Maret lalu. Hal itu juga sempat menjadikan kinerja saham maskapai paling terburuk di dunia, menurut saham yang dilacak oleh Bloomberg World Airlines Index saat itu.

Lonjakan Harga Avtur

Tidak berhenti di situ, kerentanan semakin memukul maskapai saat konflik semakin memanas. Akhir Maret lalu, manajamen AirAsia Indonesia mulai mengakui bahwa tekanan berat operasional kembali muncul dari krisis avtur tersebut.

"Kami terus melakukan berbagai langkah efisiensi secara disiplin dan terukur untuk menjaga keseimbangan antara keberlanjutan operasional dan keterjangkauan layanan bagi masyarakat," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (25/3/2026).

Secara paralel, perusahaan juga melakukan penyesuaian operasional sementara, yang berimbas pada sejumlah keterlambatan dan pembatalan penerbangan. Hal ini dilakukan sebagai langkah untuk memastikan seluruh operasional tetap memenuhi standar keselamatan yang berlaku.

"Keselamatan tidak dapat ditawar, dan setiap langkah yang kami ambil bertujuan untuk memastikan seluruh penerbangan beroperasi secara aman,” ujarnya.

Penyesuaian Rute

Sebulan setelahnya, perusahaan kembali mengambil langkah efisiensi lewat penyesuaian rute penerbangan pada sejumlah rute yang memiliki margin keuntungan terbatas. 

AirAsia memilih merampingkan operasi guna mempertahankan arus kas dan menjaga keberlanjutan layanan, meski saat itu pemerintah Indonesia memberikan relaksaski berupa tambahan penyesuaian biaya fuel surcharge.

Stimulus tersebut dinilai belum mampu meredakan tekanan yang dihadapi oleh perusahaan. "Belum sepenuhnya  mengimbangi tekanan biaya yang ada," kata Achmad, awal April lalu.

Ilustrasi maskapai penerbangan. (Bloomberg)

Perseroan baru-baru ini secara resmi diketahui belum dapat melakukan pembayaran kepada pemasok dan meminta penundaan pembayaran untuk setidaknya selusin pesawat, menurut orang-orang yang mengetahui masalah ini.

Hal ini juga dikonfirmasi oleh Rolls-Royce Holding Plc, perusahaan yang merawat mesin pesawatnya, kata beberapa orang, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya karena membahas masalah pribadi. 

Rolls-Royce sebendiri membuat dan merawat mesin untuk sekitar sepersepuluh dari seluruh armada AirAsia yang berjumlah sekitar 250 pesawat.

Secara terpisah, AirAsia juga telah meminta beberapa perusahaan penyewaan pesawat untuk menunda pembayaran sewa lebih dari 16 pesawat, dengan alasan lonjakan biaya bahan bakar setelah perang Iran, kata orang lain yang mengetahui situasi tersebut.

CEO AirAsia X Group, Bo Lingam mengatakan dalam wawancara terpisah awal pekan ini bahwa beberapa perusahaan leasing memahami situasi dan telah memberi perusahaan waktu tambahan untuk melakukan pembayaran.

Meskipun belum jelas berapa banyak pesawat yang terlibat, konflik Iran sangat merugikan maskapai penerbangan murah karena mereka memiliki ruang gerak yang lebih terbatas untuk menaikkan tarif bagi penumpang yang peka terhadap harga. 

Seperti maskapai penerbangan murah lainnya, AirAsia menyewa sebagian besar jetnya — 98%, menurut konsultan penerbangan Cirium — untuk menghindari biaya awal yang tinggi dalam membeli pesawat, karena pesanan pesawat besar dapat menelan biaya ratusan juta dolar.

Diminta untuk berkomentar, salah satu pendiri AirAsia, Tony Fernandes, mengatakan dalam panggilan video bulan lalu, "kami mungkin berselisih dengan Rolls-Royce mengenai perlakuan mereka terhadap mesin kami." Dan mengenai pembayaran sewa, dia mengatakan “tidak ada yang aneh.”

Perusahaan tidak mengalami kesulitan keuangan karena jika demikian, mereka tidak akan mampu meminjam uang dari pihak seperti Deutsche Bank AG, katanya. AirAsia awal tahun ini mengumpulkan US$230 juta melalui kesepakatan kredit swasta dari Deutsche Bank.

Perwakilan Rolls-Royce menolak untuk berkomentar untuk artikel ini atau menanggapi komentar Fernandes. Perwakilan dari beberapa perusahaan penyewaan AirAsia tidak menanggapi permintaan komentar.

(ain)

No more pages