Kemarin, pemerintah resmi menggulirkan paket stimulus untuk mendukung pertumbuhan ekonomi domestik di semester kedua tahun ini. Berdasarkan laporan Bloomberg News, para analis menilai paket stimulus pemerintah senilai Rp26,24 triliun kemungkinan belum akan memberikan dampak signifikan terhadap belanja negara maupun pasar obligasi.
Memang nilai stimulus tersebut relatif terbatas jika dibandingkan dengan ukuran perekonomian nasional maupun total belanja negara. Karena itu, dampaknya terhadap peningkatan kebutuhan pembiayaan pemerintah dan penerbitan obligasi baru diperkirakan tidak terlalu besar.
Ini juga menjelaskan mengapa pasar obligasi belum menunjukkan respons yang signifikan terhadap arah kebijakan tersebut.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai kebijakan stimulus ini lebih tepat dibaca sebagai bantalan agar konsumsi tidak turun terlalu dalam pada semester kedua, terutama di tengah tekanan inflasi, pelemahan rupiah sebelumnya, dan suku bunga yang lebih tinggi.
Meski begitu, stimulus tersebut tetap berperan sebagai penopang konsumsi rumah tangga pada semester kedua tahun ini. Pasalnya, indikator ekonomi domestik menunjukkan adanya mmoderasi permintaan masyarakat, dengan data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Mei turun ke 120.
IKK di atas 100 mengindikasikan bahwa konsumen masih optimistis memandang perekonomian saat ini hingga enam bulan mendatang. Namun, skor IKK pada Mei menjadi yang terendah dalam delapan bulan terakhir.
(dsp/aji)




























