Budi mengingatkan bahwa kondisi tersebut dapat memicu penumpukan stok kendaraan di gudang produsen maupun dealer. Pasalnya, permintaan yang tertahan tidak diimbangi dengan penyesuaian produksi dalam waktu singkat.
“Kalau [insentif] Agustus ya Agustus saja, jangan diundur lagi. Karena efeknya akan berimbas ke peningkatan stok di gudang. Nanti barang banyak menumpuk di gudang karena masyarakat menunggu momentum pembelian setelah insentif diumumkan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, industri memahami pemerintah memiliki berbagai pertimbangan dalam merumuskan kebijakan fiskal, termasuk di tengah ketidakpastian ekonomi global. Karena itu, AIMOLI tidak ingin mempersoalkan penundaan tersebut secara berlebihan.
“Kalau dikatakan kecewa, mungkin kami memahami pemerintah punya prioritas lain. Kita juga tahu kondisi ekonomi global saat ini tidak baik-baik saja,” ujar Budi.
Sebelumnya, pemerintah kembali menunda rencana pemberian insentif khusus untuk kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) selama 1 bulan, yang sebelumnya sempat dijanjikan akan mulai berlaku Juli mendatang. Artinya, calon pembeli baru bisa menikmati insentif pada Agustus 2026 yang direncanakan terbit melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) oleh Purbaya Yudhi Sadewa.
"Insentif kendaraan listrik kemarin dikaji lagi, tambahan [diundur] satu bulan," ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto kepada wartawan di kantornya, Jakarta, dikutip Selasa (23/6/2026).
Airlangga belum bisa memastikan apa penyebab rencana penundaan berulang selama dua kali berturut-turut tersebut. Dia hanya mengatakan rencana ini masing-masing terus dikaji oleh pemerintah. "Kita monitor. Ditunda lagi sementara masih dikaji," tambahnya menegaskan.
(ain)






























