Menurutnya, banyak orang tidak menyadari bahwa penurunan kemampuan melihat dekat akibat penuaan dapat memengaruhi performa kerja secara signifikan.
Seiring bertambahnya usia, kebutuhan kacamata plus akan terus meningkat hingga mencapai sekitar plus tiga pada usia 60 tahun.
Ucok mencontohkan, seseorang yang sebelumnya mampu membaca atau bekerja di depan layar selama berjam-jam mulai merasa cepat lelah saat memasuki usia pertengahan 40-an, meski kondisi kesehatan secara umum masih baik.
“Aktivitasnya sama, tuntutan produktivitasnya sama, tetapi kemampuan tubuh untuk melakukan aktivitas tersebut sudah berubah karena faktor usia. Banyak orang merasa frustrasi karena merasa tidak sakit apa-apa, tetapi performanya menurun,” sebutnya.
Menurut Ucok, inilah tantangan utama era longevity. Harapan hidup memang semakin panjang, tetapi kemampuan sensorik seperti penglihatan harus tetap dijaga agar kualitas hidup dan produktivitas tidak ikut menurun.
Sementara itu, dokter spesialis mata Mayapada Eye Center, Zoraya A. Feranthy, menyoroti ancaman lain yang muncul dari era digital. Paparan layar kini terjadi sejak usia balita dan berlangsung semakin lama seiring pertambahan usia.
“Anak-anak sekarang sudah terpapar gadget sejak usia sangat dini. Ketika bertambah besar, intensitas penggunaan perangkat digital juga semakin tinggi,” ujarnya.
Zoraya mengingatkan bahwa kebiasaan tersebut berkontribusi terhadap meningkatnya kasus miopia atau rabun jauh. Bahkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 50% populasi dunia berpotensi mengalami miopia pada 2050.
Karena itu, ia meminta orang tua lebih disiplin mengatur durasi penggunaan gadget pada anak sesuai usia. Menurutnya, solusi bukan melarang penggunaan perangkat digital sepenuhnya, melainkan membatasi penggunaannya secara bijak.
Selain itu, pekerja yang menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar juga perlu memperhatikan kesehatan mata. Ia menyarankan penerapan aturan 20-20-20, yakni setiap 20 menit melihat layar atau objek dekat, istirahat selama 20 detik dengan melihat objek yang berjarak lebih jauh.
“Selama ini orang fokus pada olahraga dan pola makan, padahal kualitas penglihatan juga merupakan investasi jangka panjang yang harus dijaga sejak dini,” pungkasnya.a
(ain)































