Logo Bloomberg Technoz

Setidaknya ada dua faktor penyebab kejatuhan harga emas. Pertama adalah perkembangan di Timur Tengah.

Amerika Serikat (AS) dan Iran memang sudah meneken perjanjian damai interim. Namun ternyata situasi damai tersebut masih rapuh.

Bloomberg News mengabarkan, Iran menunda pembicaraan soal kesepakatan damai permanen karena Israel masih saja menggempur Lebanon. Kapal-kapal yang ingin melewati Selat Hormuz pun harus mendapat izin dari Teheran.

Perkembangan ini membuat harga minyak naik lagi. Kemarin, harga minyak jenis brent ditutup naik hampir 1% ke US$ 80,58/barel.

Kenaikan harga minyak membuat kekhawatiran akan inflasi kembali datang. Situasi yang akan membuat bank sentral di berbagai negara harus menempuh kebijakan moneter ketat melalui kenaikan suku bunga acuan.

Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga tinggi.

Faktor kedua, yang sebenarnya masih terkait, adalah arah kebijakan moneter global. Ancaman inflasi tinggi membuat berbagai bank sentral memasang mode siaga, pelonggaran moneter sepertinya tidak masuk dalam opsi kebijakan.

“Pembukaan kembali Selat Hormuz memang positif bagi emas, tetapi kemudian tertutup oleh pengetatan moneter. Secara historis, emas akan lesu saat kenaikan (suku bunga acuan) pertama,” kata Christopher Wong, Strategist di Oversea-Chinese Banking Corp, sebagaimana diwartakan Bloomberg News.

(aji)

No more pages