Logo Bloomberg Technoz

Amerika Serikat (AS) dan Iran memang sudah meneken perjanjian damai interim. Namun ternyata situasi damai tersebut masih rapuh.

Bloomberg News mengabarkan, Iran menunda pembicaraan soal kesepakatan damai permanen karena Israel masih saja menggempur Lebanon. Kapal-kapal yang ingin melewati Selat Hormuz pun harus mendapat izin dari Teheran.

Perkembangan ini membuat harga minyak naik lagi. Kemarin, harga minyak jenis brent ditutup naik hampir 1% ke US$ 80,58/barel.

Kenaikan harga minyak membuat kekhawatiran akan inflasi kembali datang. Situasi yang akan membuat bank sentral di berbagai negara harus menempuh kebijakan moneter ketat melalui kenaikan suku bunga acuan.

Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga tinggi.

Faktor kedua, yang sebenarnya masih terkait, adalah arah kebijakan moneter global. Ancaman inflasi tinggi membuat berbagai bank sentral memasang mode siaga, pelonggaran moneter sepertinya tidak masuk dalam opsi kebijakan.

“Pembukaan kembali Selat Hormuz memang positif bagi emas, tetapi kemudian tertutup oleh pengetatan moneter. Secara historis, emas akan lesu saat kenaikan (suku bunga acuan) pertama,” kata Christopher Wong, Strategist di Oversea-Chinese Banking Corp, sebagaimana diwartakan Bloomberg News.

Analisis Teknikal

Lantas bagaimana prediksi harga emas untuk pekan depan? Apakah akan terjadi penurunan empat minggu berturut-turut?

Secara teknikal dengan perspektif mingguan (weekly time frame), emas terdampar di zona bearish. Terlihat dari Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang sebesar 39. RSI di bawah 50 menandakan suatu aset sedang dalam posisi bearish.

Namun indikator Stochastic RSI 14 hari sudah menyentuh nol. Paling rendah, sudah sangat jenuh jual (oversold).

Untuk perdagangan minggu depan, secara teknikal, harga emas sebenarnya berpeluang naik. Cermati pivot point di US$ 4.202/troy ons.

Dari situ, harga emas berpotensi menguji resisten US$ 4.352/troy ons yang menjadi Moving Average (MA) 5. Resisten lanjutan ada di US$ 4.389-4.542/troy ons.

Target paling optimistis bahkan bisa mencapai US$ 4.729/troy ons.

Jikalau harga emas malah turun lagi, maka US$ 4.072/troy ons rasanya bisa menjadi target support terdekat. Penembusan di titik ini berisiko melongsorkan harga emas ke rentang US$ 3.951-3.862/troy ons.

Target paling pesimistis adalah US$ 3.701/troy ons.

(aji)

No more pages