"Bagaimana dari Singapura ke Bangkok itu jauh lebih murah dibandingkan dengan dari Jakarta ke Raja Ampat?" ujarnya.
Selain biaya transportasi, ia juga menyoroti persoalan akses menuju destinasi wisata yang masih kurang memadai. Yoyok mencontohkan perjalanan dari Bandara Silangit menuju kawasan Danau Toba yang masih membutuhkan waktu berjam-jam.
Karena itu, ia meminta Kementerian Pariwisata memperkuat koordinasi lintas kementerian dan lembaga untuk menekan biaya perjalanan wisata serta memperbaiki konektivitas menuju destinasi prioritas nasional.
Yoyok juga mendorong pemerintah memperlonggar kebijakan visa bagi wisatawan asal China, India, dan negara-negara Timur Tengah. Menurut dia, kebijakan yang lebih terbuka seperti yang diterapkan Malaysia dan Thailand dapat membantu meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan asing sekaligus mendongkrak devisa sektor pariwisata.
"Malaysia dan Thailand ini visanya longgar banget, bahkan bisa dibilang open visa bagi China dan India. Oleh karenanya saya sarankan visa untuk India, China dan Timur Tengah cobalah diperlonggar," kata Yoyok.
Di sisi lain, Ketua Komisi VII DPR RI Saleh Partaonan Daulay meminta Menteri Pariwisata tetap optimistis menjalankan tugasnya meski menghadapi keterbatasan anggaran pada 2027. Ia menegaskan Komisi VII tetap mendukung berbagai program yang dijalankan Kementerian Pariwisata.
"Harapan saya Bu Menteri berhasil. Bu Menteri harus tetap semangat, kalau tidak semangat bagaimana? Ini kelihatannya kalau dengan anggaran begini malah tidak semangat," kata Saleh.
Saleh bahkan berseloroh agar Widiyanti lebih sering tersenyum saat menghadapi berbagai tantangan di sektor pariwisata. Menurut dia, sikap optimistis perlu ditunjukkan agar tidak menimbulkan kesan yang keliru di tengah pembahasan anggaran.
"Ibu harus banyak senyum, banyak bergembira, senang, happy. Supaya orang tidak salah tafsir ini. Kami dukung dari awal itu, tidak pernah Komisi VII tidak mendukung," ujarnya.
(dec)






























