Logo Bloomberg Technoz

Hilirisasi Batu Bara Jadi Metanol Diproyeksi Lebih Cuan dari DME

Sabrina Mulia Rhamadanty
01 August 2026 20:00

Tumpukan batu bara terlihat di dekat tangki metanol di pabrik China XLX Fertiliser Ltd. di Xinxiang, Provinsi Henan, China./Bloomberg-Doug Kanter
Tumpukan batu bara terlihat di dekat tangki metanol di pabrik China XLX Fertiliser Ltd. di Xinxiang, Provinsi Henan, China./Bloomberg-Doug Kanter

Bloomberg Technoz, Jakarta – Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) menyoroti, meski dimethyl ether (DME) sempat digadang-gadang menjadi opsi utama hilirisasi batu bara, produk metanol dan gas sintetis atau synthetic gas (syngas) memiliki nilai keekonomian serta fleksibilitas pasar yang jauh lebih tinggi.

"Pengembangan gas sintesis dan metanol [dari gasifikasi batu bara] jauh lebih rasional [daripada DME] untuk saat ini karena rantai pasok industri turunannya sudah terbentuk," ujar Ketua Umum Perhapi Sudirman Widhy kepada Bloomberg Technoz, dikutip Sabtu (1/8/2026).

Menurutnya, produk metanol dan gas sintesis dinilai lebih unggul karena ekosistem industrinya yang sudah mapan dan kebutuhan pasar domestik yang sangat tinggi.


Dia menambahkan efisiensi dan kepastian penyerapan offtaker menjadi kunci utama dalam menentukan keberhasilan proyek hilirisasi batu bara di Indonesia.

"DME butuh konversi infrastruktur penyaluran yang tidak murah. Sebaliknya, metanol langsung terserap oleh pasar domestik, seperti untuk kebutuhan bahan baku industri petrokimia hingga pembuatan biodiesel," lanjut Sudirman.

Lima Proyek Hilirisasi Batu Bara yang Disetujui Pemerintah (Bloomberg Technoz/Asfahan)