Logo Bloomberg Technoz

Harga Pasar

Sugeng menegaskan BBM nonsubsidi seperti Pertamax harganya memang mengikuti harga pasar, sebab penetapan harganya mempertimbangkan harga minyak mentah, ditambah biaya pengolahan, distribusi, dan komponen lainnya.

Lebih lanjut, Sugeng juga mengatakan pemerintah harus mewaspadai pasar minyak global yakni potensi penurunan produksi OPEC+ hingga sekitar 8 juta barel per hari.

Lalu, cadangan minyak strategis di berbagai negara besar tengah terkuras hingga 1,2 miliar barel dalam beberapa waktu terakhir.

“Saat ini negara-negara besar sedang mengisi kembali cadangan tersebut. Kondisi itu turut memengaruhi pembentukan harga minyak dunia,” tegasnya.

Harga minyak menuju penurunan terpanjang dalam 10 bulan terakhir karena meningkatnya ekspektasi bahwa kesepakatan AS-Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz akan memicu gelombang pasokan, melonggarkan pasar minyak mentah global.

Patokan global Brent mundur untuk hari kelima di bawah US$79/barel, diperdagangkan mendekati level terendah tiga bulan, sementara WTI berada di dekat US$76 hari ini.

Pakta sementara, yang dijadwalkan akan ditandatangani pada Jumat (19/6/2026), menawarkan insentif keuangan yang luas kepada Teheran, termasuk hak untuk menjual minyaknya segera.

Harga minyak mentah telah turun tajam dalam beberapa pekan terakhir karena langkah-langkah untuk mengakhiri perang antara Washington dan Teheran dipandang akan mengurangi ketatnya pasokan di pasar energi global.

Meskipun detail teknis masih dalam tahap finalisasi dan beberapa bahasa mungkin diubah, draf memorandum 14 poin menawarkan gambaran paling jelas tentang kesepakatan tersebut, yang akan membuka jalan bagi 60 hari pembicaraan yang bertujuan untuk secara resmi mengakhiri perang dan memberlakukan batasan baru yang ketat pada program nuklir Iran.

Poin-poin tersebut mencakup persyaratan bagi Teheran untuk memastikan pergerakan kapal dagang dan bagi AS untuk mencabut blokade Hormuz yang diberlakukannya sendiri.

Jalur air sempit ini menghubungkan Teluk Persia ke Samudra Hindia, dan pada masa damai dulunya mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak global.

Untuk diketahui, sebelum memutuskan menaikkan harga Pertamax menjadi Rp16.250/liter pada Rabu (10/6/2026), PT Pertamina Patra Niaga (PPN) mengungkapkan harga keekonomian Pertamax sudah menembus sekitar Rp17.000-an/liter.

Corporate Secretary PPN Roberth MV Dumatubun menyatakan, atas hasil diskusi dengan pemerintah, perseroan memutuskan menahan harga Pertamax di level Rp12.300/liter April 2026.

Roberth mengungkapkan perseroan bakal menanggung selisih harga jual dan keekonomian Pertamax terlebih dahulu.

Setelah itu, pemerintah bakal membayarkan kompensasi energi dengan besaran yang bakal didiskusikan dan dibayarkan sesuai aturan yang berlaku.

“Ya, kurang lebih begitu kalau range hargannya [Pertamax di sekitar Rp17.000-an/liter],” kata Roberth ketika dihubungi, Selasa (12/5/2026).

“Untuk selisih, karena harga ditahan setiap bulan, diberikan kompensasi dari pemerintah untuk selisihnya setelah pembahasan,” tegas dia.

Di sisi lain, Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri membeberkan bahwa penyesuain harga BBM nonsubsidi dilakukan juga oleh operator stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) swasta.

“Penyesuaian pada harga BBM nonsubsidi ini dilakukan dengan mempertimbangkan dinamika geopolitik global dan harga minyak yang berlaku di pasar Internasional,” kata Simon dalam keterangan resminya, Kamis (11/6/2026) malam.

Simon menegaskan harga BBM bersubsidi Pertalite dan Solar tidak mengalami penyesuaian, masing-masing ditahan sebesar Rp10.000 dan Rp6.800 per liter.

-- Dengan asistensi Mis Fransiska Dewi

(azr/wdh)

No more pages