Menurutnya, kondisi tersebut memicu fenomena near-field effect yang kuat sehingga gelombang seismik mencapai permukaan tanpa mengalami peredaman signifikan. Keberadaan lapisan sedimen lunak di sejumlah wilayah juga memperbesar guncangan melalui fenomena amplifikasi lokal yang dapat meningkatkan potensi kerusakan bangunan.
Berada di Zona Deformasi Kompleks
Fakta kedua, episenter gempa berada di kawasan dengan sistem tektonik yang sangat kompleks. Wilayah tersebut dipengaruhi sejumlah sesar aktif seperti Sesar Sausu, Palolo, Malei, Parigi, Tokararu, Segmen Sesar Saluki, hingga Lorelindu Fracture Zone.
Daryono menjelaskan interaksi berbagai sesar tersebut mencerminkan rezim tektonik yang dinamis. Distribusi energi gempa tidak hanya mengikuti satu jalur sesar, tetapi terbagi dalam pola tegangan yang rumit sehingga memungkinkan terjadinya ruptur atau patahan sekunder secara bersamaan di sejumlah zona aktif.
Dipicu Mekanisme Sesar Turun
Fakta ketiga, gempa memiliki mekanisme sesar turun (normal fault). Wilayah Palolo dan Sausu berada pada zona tarikan yang terbentuk akibat dinamika Sesar Palu-Koro. Peregangan kerak bumi di kawasan tersebut memicu terbentuknya sesar-sesar turun yang menyebabkan amblesan permukaan dan pembentukan cekungan sedimen.
"Akibat peregangan ini, terbentuk sesar-sesar turun yang berfungsi mengompensasi tarikan tersebut. Sesar-sesar turun inilah yang menyebabkan amblesan pada permukaan bumi," ujar Daryono.
Menurutnya, kondisi tersebut menciptakan zona deformasi transtensial yang kompleks sehingga pelepasan energi gempa terkonsentrasi pada pergerakan ekstensional yang mampu menghasilkan guncangan dangkal dengan efek kerusakan lebih besar.
Kerusakan Capai Puluhan Rumah
Fakta keempat, gempa ini terbukti bersifat destruktif. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sedikitnya 67 rumah mengalami kerusakan, terdiri atas 26 rumah rusak ringan, enam rusak sedang, dan 12 rusak berat.
Selain rumah warga, kerusakan juga terjadi pada enam fasilitas ibadah, dua jembatan, satu fasilitas umum, dua gedung perkantoran, tiga tempat usaha, serta ruas jalan penghubung Palu–Sigi–Poso yang mengalami ambles. Kabupaten Sigi menjadi daerah terdampak paling parah dengan total 47 rumah rusak.
Bagian dari Sejarah Gempa Besar
Fakta kelima, kawasan tersebut memiliki riwayat kegempaan yang panjang. Daryono mencatat gempa M4,5 pernah terjadi pada 1983, disusul gempa Palu-Poso M5,9 pada 1995 yang menyebabkan puluhan korban luka dan merusak lebih dari 100 rumah.
Aktivitas seismik berlanjut dengan gempa M4,8 pada 2005 serta gempa M6,6 pada 2017 yang mengakibatkan 25 orang terluka dan merusak 348 bangunan. Rangkaian kejadian tersebut menunjukkan ancaman gempa di Sulawesi Tengah masih tinggi dan perlu diantisipasi secara berkelanjutan.
Waspadai Percabangan Sesar Aktif
Fakta keenam, gempa ini menjadi pengingat bahwa Sulawesi Tengah memiliki sistem sesar aktif yang sangat kompleks. Daryono menegaskan mitigasi bencana tidak boleh hanya berfokus pada sesar utama.
"Mitigasi tidak boleh hanya fokus pada zona sesar utama, tetapi juga pada percabangan sesar-sesar aktif di sekitarnya yang sering kali terabaikan namun berpotensi memicu guncangan hebat," tegasnya.
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan gempa tektonik mengguncang wilayah Palu pada Selasa (16/6/2026) pukul 10.27 WIB atau 11.27 WITA.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menyebut gempa memiliki magnitudo M6,7 dengan episenter berada 42 kilometer tenggara Palu pada kedalaman 10 kilometer.
"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar aktif," ujar Wijayanto.
(dec)





























