Logo Bloomberg Technoz

Selain itu, kemudahan proses pengajuan juga menjadi daya tarik utama layanan pinjaman digital. Sebanyak 15,9% responden mengaku memilih pinjaman online karena proses pengajuannya dinilai mudah dan cepat dibandingkan akses pembiayaan konvensional.

Sementara itu, 10,3% pengguna memanfaatkan pinjol karena adanya promosi atau diskon yang ditawarkan penyedia layanan.

Untuk penggunaan lainnya, sebanyak 8,4% responden menggunakan pinjaman online guna membayar tagihan seperti listrik dan air.

Sebanyak 2,3% mengaku memanfaatkan pinjaman online karena tidak memiliki akses ke layanan pinjaman konvensional seperti bank, dan 2,3% lainnya menggunakannya sebagai modal usaha.

Adapun alasan memenuhi tuntutan gaya hidup, termasuk kebutuhan hiburan dan rekreasi, tercatat sebesar 2,0%. Penggunaan pinjol untuk membeli pulsa menjadi alasan paling kecil dengan porsi hanya 0,1%.

Pengguna Terbesar

Berdasarkan kelompok usia, survei APJII mengungkap, generasi milenial masih menjadi pengguna pinjaman online terbesar di Indonesia. APJII mencatat 45,6% pengguna pinjaman online berasal dari kelompok usia 29–44 tahun.

Posisi berikutnya ditempati Generasi Z usia 13–28 tahun dengan porsi 35,7%. Namun angka ini turun dibandingkan survei tahun sebelumnya yang mencapai 41,5%.

Sementara itu, pengguna dari Generasi X usia 45–60 tahun mencapai 16,7%, meningkat dibandingkan tahun 2025 yang berada di level 11,8%.

Kelompok Baby Boomers usia 61–79 tahun menyumbang 2,0% pengguna pinjol, sedangkan generasi Pra Boomers yang berusia di atas 80 tahun nyaris tidak tercatat menggunakan layanan tersebut.

Pendapatan Menengah

Berdasarkan tingkat pendapatan, mayoritas pengguna pinjaman online berasal dari kelompok berpenghasilan Rp2,5 juta hingga Rp5 juta per bulan.

Kelompok ini menyumbang 53,5% dari total pengguna pinjaman online pada 2026, melonjak signifikan dibandingkan 16,9% pada tahun sebelumnya.

Kelompok pendapatan Rp1 juta hingga Rp2,5 juta menempati posisi kedua dengan kontribusi 24,7%, disusul kelompok berpenghasilan Rp7,5 juta hingga Rp10 juta sebesar 20%.

Sementara pengguna dengan pendapatan Rp5 juta hingga Rp7,5 juta mencapai 13,6%.

Pada kelompok pendapatan lebih tinggi, penggunaan pinjaman online relatif kecil. Pengguna dengan penghasilan Rp10 juta hingga Rp15 juta hanya 0,7%, sedangkan kelompok dengan pendapatan di atas Rp15 juta hanya 0,2%.

Perbedaan Alasan

APJII juga menemukan adanya perbedaan motivasi penggunaan pinjaman online antar kelompok generasi.

Pada Generasi Z, alasan terbesar menggunakan pinjol adalah memenuhi kebutuhan mendesak sebesar 21,2%, diikuti belanja kebutuhan sehari-hari 19,4% dan pembelian barang dengan cicilan tanpa kartu kredit 18,1%.

Di kalangan milenial, kebutuhan mendesak juga menjadi alasan utama dengan porsi 22,1%, diikuti cicilan tanpa kartu kredit sebesar 18,6% dan belanja kebutuhan sehari-hari 16,6%.

Untuk Generasi X, kebutuhan mendesak bahkan menjadi alasan yang lebih dominan dengan porsi 28,7%. Belanja kebutuhan sehari-hari mencapai 20,7%, sedangkan pembelian barang secara cicilan tanpa kartu kredit sebesar 13,8%.

Sementara itu, kelompok Baby Boomers menunjukkan pola yang berbeda. Selain kebutuhan mendesak sebesar 19%, alasan utama lainnya adalah pembelian barang dengan cicilan tanpa kartu kredit dan kemudahan proses pengajuan yang masing-masing mencapai 19%.

(mef/naw)

No more pages