Logo Bloomberg Technoz

Penurunan harga minyak ke level terendah sejak awal Maret telah menghapus sebagian besar kenaikan yang terjadi selama konflik berlangsung. Kondisi ini membantu meredakan tekanan inflasi pada saat para pembuat kebijakan di Federal Reserve (The Fed) tengah mengevaluasi arah suku bunga pekan ini. Namun, pembukaan kembali Selat Hormuz belum tentu berarti kondisi akan langsung kembali normal. Masih ada pertanyaan terkait keamanan pelayaran, aturan operasional, dan apakah jalur strategis yang sebelumnya mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia itu benar-benar akan bebas biaya.

“Waktu paling cepat bagi pasokan minyak untuk kembali ke level sebelum perang adalah akhir Juli,” kata analis Raymond James, Pavel Molchanov. “Industri minyak masih harus menyelesaikan berbagai kendala logistik sebelum pasokan dapat kembali normal.”

Harga:

  • WTI untuk pengiriman Juli naik 0,9% menjadi US$81,45 per barel pada pukul 06.55 waktu Singapura.
  • Brent untuk pengiriman Agustus ditutup turun 4,8% menjadi US$83,17 per barel pada Senin.

Saat ini, hampir 300 kapal yang membawa muatan masih menunggu untuk keluar dari Teluk Persia, sementara jumlah kapal kosong yang hampir sama juga menunggu untuk masuk ke kawasan tersebut guna mengangkut barang, menurut data perusahaan intelijen pasar Kpler.

“Kami tidak benar-benar berpikir situasinya akan seperti membuka keran lalu semuanya kembali normal dalam beberapa minggu atau satu bulan,” kata analis utama riset Enverus, Kyle Bertimini. “Prosesnya akan memakan waktu lebih lama dari itu.”

Penutupan efektif Selat Hormuz—yang selama ini berada di bawah blokade ganda oleh Iran dan AS—telah mengurangi arus pasokan energi dari Timur Tengah, sehingga memicu pengurasan cadangan komersial maupun strategis. Cadangan darurat minyak mentah AS kini turun ke level terendah sejak 1983, berdasarkan data yang dirilis pada Senin.

(bbn)

No more pages