Penutupan mendatang menjadi pertama kalinya sejak Starbucks masuk ke Korea Selatan pada 1999 seluruh gerai perusahaan ditutup lebih awal karena instruksi korporasi.
“Langkah ini menunjukkan betapa seriusnya kami memandang insiden pemasaran ini dan mencerminkan komitmen kami untuk memastikan hal serupa tidak akan terulang,” kata Shinsegae dalam sebuah pernyataan.
Menurut perusahaan, pelatihan tersebut bertujuan mencegah kesalahan di masa depan dengan menjembatani kesenjangan antara pesan korporasi dan sentimen publik. Materinya akan mencakup sejarah modern Korea serta bagaimana aktivitas perusahaan dapat bersinggungan dengan isu-isu sosial yang sensitif seperti gender, ketenagakerjaan, hak asasi manusia, dan ujaran kebencian.
Starbucks Korea juga akan merombak proses pengambilan keputusan internal untuk memperbaiki rantai persetujuan yang dinilai bermasalah sehingga kampanye “Tank Day” bisa diluncurkan ke publik. Perusahaan berencana menerapkan “daftar periksa sensitivitas sosial” yang dikembangkan bersama para ahli eksternal serta memperketat proses peninjauan dengan mewajibkan persetujuan lintas departemen, termasuk dari tim hukum dan pengendalian mutu.
Korea Selatan merupakan pasar terbesar Starbucks di luar Amerika Serikat dan Tiongkok. Jaringan supermarket E-Mart milik Shinsegae menguasai 67,5% saham bisnis Starbucks di negara tersebut, sementara sisanya dimiliki oleh dana kekayaan negara Singapura.
(bbn)





























