Baru kurang dari 10 tahun yang lalu, indeks kekayaan Bloomberg mencatat kekayaan pertama yang melebihi US$100 miliar — sebuah momen bersejarah yang dilampaui Elon Musk pada tahun 2020. Sejak saat itu, dia mendominasi peringkat orang terkaya di dunia, pertama saat Tesla Inc. berkembang menjadi salah satu saham dengan kinerja terbaik sepanjang masa, dan kemudian saat para investor berebut untuk mendapatkan bagian dari Space Exploration Technologies Corp., nama resmi SpaceX, yang kini termasuk di antara perusahaan-perusahaan paling berharga di dunia.
Kekayaan satu triliun dolar AS — kira-kira setara dengan produk domestik bruto Swiss — hampir tak terbayangkan. Steve Cohen, yang meraih US$3,4 miliar tahun lalu sebagai manajer hedge fund dengan penghasilan tertinggi di dunia, harus menghasilkan jumlah tersebut selama hampir 300 tahun sebelum mencapai satu triliun. Masing-masing dari 14 anak Musk akan masuk dalam daftar 30 orang terkaya di dunia jika mereka mewarisi bagian yang sama dari harta warisannya.
“Kita tidak sedang membicarakan kekayaan antar generasi. Kita sedang membicarakan kekayaan yang tak terbatas,” kata Dan Walter, konsultan gaji independen.
Ini adalah momen penting bagi Elon Musk, 54 tahun, yang kekayaannya telah menjadikannya salah satu figur paling berkuasa dan kontroversial di dunia. Dan ia tidak ragu menggunakan kekayaannya untuk mewujudkan visinya: Membeli perusahaan media sosial Twitter pada 2022, mendanai chatbot AI yang sejalan dengan sebagian besar pandangan dunianya, serta membantu mendorong Donald Trump ke masa jabatan kedua di Gedung Putih melalui sumbangan.
Lebih dari US$291 juta yang dia habiskan untuk pemilihan federal 2024 mewakili kurang dari 0,03% dari kekayaan bersihnya saat ini — setara dengan sumbangan $291 bagi seorang jutawan.
Perjalanan yang Berliku
Namun, perjalanan Elon Musk dari miliarder menjadi triliuner tidak luput dari berbagai kendala. Aksinya membeli Twitter pada tahun 2022 membuatnya harus melepas saham Tesla senilai lebih dari US$15 miliar, yang turut menyebabkan anjloknya harga saham perusahaan mobil tersebut karena kesepakatan yang dengan cepat dianggap terlalu mahal.
Kesepakatan kompensasi “moonshot” Tesla senilai US$56 miliar yang ia negosiasikan pada tahun 2018 dibatalkan oleh hakim Delaware setelah beberapa investor mengajukan gugatan.
Dan keputusannya untuk bergabung dengan Departemen Efisiensi Pemerintahan Presiden Donald Trump (DOGE) serta dukungannya terhadap gerakan politik pinggiran membuat jutaan calon pelanggan kecewa, sehingga penjualan mobil Tesla pun menyusut.
Namun, entah bagaimana, Elon Musk berhasil lolos. Twitter, yang kemudian berganti nama menjadi X, melihat nilai datanya melonjak akibat permintaan AI, dan ia akhirnya menggabungkannya dengan xAI, startup kecerdasan buatan miliknya.
Tesla pindah dari California ke Texas dan tahun lalu memenangkan banding yang memungkinkan Musk mempertahankan paket gaji aslinya, sekaligus memberinya kesepakatan baru mencapai US$1 triliun jika perusahaan mencapai target tertentu. Dan para investor Tesla telah mengabaikan penurunan penjualan mobil untuk fokus pada penawaran masa depan seperti robotaxi dan robot Optimus.
SpaceX Melambung
Walau Elon Musk berhasil menjadi triliuner terutama berkat SpaceX—perusahaan yang didirikannya pada tahun 2002 dan berkantor pusat di Starbase, Texas—justru Tesla-lah yang pada awalnya mengantarkannya naik ke jajaran orang-orang terkaya di dunia.
Saham produsen mobil listrik yang berbasis di Austin ini—di mana Musk tetap menjadi pemegang saham terbesar—telah melonjak sekitar 35.000% sejak perusahaan tersebut go public pada tahun 2010.
Namun, dominasi SpaceX di pasar peluncuran orbital, bersama dengan layanan broadband satelit Starlink yang mulai ditawarkannya pada tahun 2019, menarik perhatian yang semakin besar dari para investor.
Parameter valuasi SpaceX sekitar US$100 miliar dalam putaran investasi 2021, angka tersebut melonjak menjadi US$1 triliun pada Februari setelah Elon Musk menggabungkannya dengan xAI dan jaringan media sosial X. Hasil penggabungan bisnis tersebut — yang kini memegang rekor penawaran umum perdana (IPO) terbesar sepanjang sejarah setelah mengumpulkan US$75 miliar — menyumbang lebih dari 70% dari kekayaan bersihnya.
Kekayaan Elon Musk sebagian besar masih berupa nilai di atas kertas dengan sedikit aset di luar kepemilikan di perusahaannya sendiri, menurut indeks kekayaan Bloomberg. Jika ia melikuidasi saham di salah satu bisnisnya, hal itu dapat menurunkan nilai perusahaan tersebut di mata para investornya.
Namun, Tesla dan SpaceX memiliki perjanjian kompensasi untuk membayar Musk, CEO di kedua perusahaan tersebut, penghargaan ekuitas tambahan jika perusahaan mencapai serangkaian tonggak keuangan dan operasional yang ambisius. Jika semua target tercapai, nilai gabungan kedua perjanjian tersebut akan mencapai sekitar US$1,8 triliun.
(bbn)




























