Seiring berjalannya waktu, Solichun menerangkan ada beberapa tantangan yang harus dihadapi dirinya dalam mengembangkan desa wisata.
”Kalau soal tantangan, karena dalam mengembangkan wisata terlalu asik, teman-teman muda di desa saat ini kurang semangat untuk menjadi petani. Kita ingin mengembangkan argowisata di mana teman-teman bisa belajar menanam hingga panen. Selain itu, terkait konservasi ada rumah bibit yang ingin dikembangkan. Serta beberapa rangka pemulihan seperti bersih-bersih gunung, penanaman pohon dan pembagusan jalur,” ujar Solichun.
“Untuk itu, dengan adanya bimbingan program BCA bisa meningkatkan semangat teman-teman muda bertani lagi,” tambahnya.
Nilai Ekonomi Terbentuk
Menurut Solichun, program desa wisata sangat membantu nilai ekonomi warga setempat. Dari ojek untuk mengantar pendaki hingga para UMKM dapat merasakan.
“Para gojek ada 100 orang lebih terlibat. Mereka bahkan ada yang bisa mengantarkan sampe 50 kali saat akhir pekan,” ungkap Solichun.
Salah satu pemotor bernama Andre mengaku ia sekali mengantar para pendaki mendapatkan Rp40 ribu kalau siang hari, sedangkan untuk malam hari dibayar Rp50 ribu.
“Lumayan lah mbak, saya sudah melakukan pekerjaan ini 5 tahun. Dan enaknya di sini di jadwal, jadi semua dapat giliran,” tambah Andre.
Dilanjutkan, Solichun, tidak hanya para ojek. Para UMKM juga mendapatkan pendapatan yang bagus. “Warung-warung depan basecamp pendakian pada buka 24 jam. Kalau secara industri, pengelolaan buah carica, purwaceng dan kentang di kembangkan di desa Patak Banteng sehingga dapat menopang desa kami,” tambahnya.
Pihak CSR Bakti BCA pembinaan desa wisata mengungkapkan saat ini pihaknya hadir di Patak Banteng dalam tahap merencanakan program agar desa wisata tersebut semakin berkembang.
Menurut Vice President CSR BCA, Nona Faletta, ada tiga program yang disiapkan. “Fase pertama adalah design; di mana akan membantu menguatkan destinasi wisata lebih terstruktur, tangguh dan lebih menantang.
Fase kedua yaitu, enabler; mencari kekurangan dalam rangka perbaikan. “Dari SDM dan perluasan akses dan penguatan kelembagaan,” tambahnya.
Fase ketiga, suistan; di mana nantinya teman-teman pengelola desa wisata diuji, dan melakukan sendiri tanpa bantuan pihak BCA. “Apakah ilmu terserap baik dan dipraktikan,” tambahnya.
(spt/lav)































