Berdasarkan survei internal terhadap lebih dari 2.000 CIO dan CTO di seluruh dunia, AI diproyeksikan mampu meningkatkan produktivitas perusahaan lebih dari 40% pada 2030. Dekker menjelaskan, perusahaan kini tidak lagi melihat pengeluaran teknologi sebagai biaya operasional semata.
Infrastruktur digital dinilai menjadi aset strategis untuk mendukung pengembangan layanan baru, produk baru, hingga model bisnis baru berbasis AI. Ia menilai perubahan pendekatan tersebut menandai pergeseran besar dalam strategi korporasi.
Jika sebelumnya investasi teknologi banyak difokuskan pada efisiensi dan penghematan biaya, kini perusahaan mulai menggunakannya untuk menciptakan pertumbuhan baru.
“Cerita pemanfaatan AI telah berubah efisiensi, pengurangan biaya, dan produktivitas menjadi cerita tentang pertumbuhan. Organisasi mulai memanfaatkan AI untuk inovasi dan pengembangan produk,” sebut Dekker.
IBM memperkirakan bahwa pada 2030 lebih dari 60% pengeluaran AI perusahaan akan diarahkan untuk menciptakan produk baru, layanan baru, dan model bisnis baru.
Menurut Dekker, kondisi tersebut akan menjadikan kebutuhan terhadap infrastruktur teknologi semakin besar karena perusahaan harus mampu mengelola data, menjalankan model AI, dan mengintegrasikan berbagai sistem secara lebih cepat.
Dekker menambahkan, perusahaan yang lebih awal berinvestasi pada AI dan infrastruktur pendukungnya mulai memperoleh hasil yang signifikan. Berdasarkan pengalaman internal IBM, penerapan AI dan teknologi hybrid cloud di berbagai operasi perusahaan telah menghasilkan produktivitas senilai sekitar US$4,5 miliar dalam lima tahun terakhir.
“Dengan menggunakan dua teknologi utama, yaitu AI dan hybrid, di seluruh operasi perusahaan kami, IBM telah memperoleh sekitar US$4,5 miliar produktivitas dalam lima tahun terakhir. Itu bukan estimasi atau proyeksi, tetapi angka yang tercatat dalam laporan publik kami,” pungkas dia.
(wep)




























