Meski demikian, lembaga tersebut memperkirakan penerimaan negara akan mulai membaik dalam beberapa tahun ke depan.
Perbaikan tersebut didorong oleh berkurangnya penumpukan restitusi pajak serta mulai terlihatnya hasil reformasi administrasi perpajakan yang sedang dijalankan pemerintah. Dalam jangka pendek, penerimaan negara juga masih mendapat dukungan dari tingginya harga sejumlah komoditas ekspor utama Indonesia.
Harga batu bara, gas alam cair (LNG), nikel, emas, dan minyak sawit diperkirakan memberikan tambahan dukungan terhadap penerimaan negara dengan dampak bersih sekitar 0,4% terhadap PDB.
Akan tetapi, Bank Dunia mengingatkan bahwa tekanan terhadap fiskal tidak hanya berasal dari sisi belanja. Beban pembayaran bunga utang juga diproyeksikan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.
Rasio pembayaran bunga terhadap penerimaan negara diperkirakan naik dari 18,7% pada 2025 menjadi 19,2% pada 2028. Artinya, porsi penerimaan negara yang digunakan untuk membayar bunga utang akan semakin besar.
Tak hanya itu, Bank Duniajuga meramal Indonesia masih akan mencatat defisit primer rata-rata sebesar 0,4% terhadap PDB sepanjang periode 2026–2028.
(lav)




























