"Masih terdapat kebutuhan cash flow di level PANI maupun CBDK untuk mendukung pengembangan usaha ke depan," imbuh dia.
Di tengah kebutuhan pendanaan tersebut, PANI tetap mempertahankan target marketing sales 2026 sebesar Rp4,3 triliun.
Adapun, hingga April lalu, realisasi marketing sales telah mencapai 23% dari target tahunan. Meski masih mempertahankan target tersebut, perseroan mengakui sejumlah faktor eksternal menjadi tantangan bagi industri properti tahun ini.
"Semoga target tersebut dapat tercapai, meskipun terdapat tantangan seperti pergerakan suku bunga dan kondisi geopolitik global yang berada di luar kendali kami sebagai pengembang properti," ujar Christy.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur PANI, Yohanes Edmond Budiman menyampaikan, perkembangan kebijakan moneter dan kondisi ekonomi menjadi faktor yang terus dicermati perusahaan karena berpengaruh terhadap daya beli masyarakat dan aktivitas pasar properti.
Meski demikian, perseroan menilai segmen menengah atas hingga premium yang menjadi fokus pengembangannya masih memiliki ketahanan yang relatif baik.
Di samping itu, PANI juga mengakui konsumen kini lebih selektif dalam mengambil keputusan pembelian. Namun perusahaan masih melihat minat yang cukup baik terhadap produk-produk yang dipasarkan.
"Meskipun konsumen saat ini menjadi lebih selektif dalam mengambil keputusan pembelian, kami masih melihat minat yang cukup baik terhadap produk-produk kami karena pembeli umumnya mempertimbangkan kualitas produk, kualitas lokasi, serta pengembangan kawasan yang berkelanjutan," ujar Yohanes.
(dhf)































