Logo Bloomberg Technoz

Dengan kondisi pasar yang lebih terkendali, bank memiliki ruang untuk menjaga penyaluran pembiayaan secara prudent, selektif, dan produktif.

Meski demikian, BNI tetap mencermati potensi dampak kenaikan suku bunga terhadap permintaan kredit, terutama dari sektor usaha yang sensitif terhadap perubahan biaya dana.  

Perseroan juga akan terus menyesuaikan strategi bisnis dengan perkembangan kondisi makroekonomi, arah kebijakan moneter, serta kebutuhan pembiayaan nasabah. 

Di tengah dinamika suku bunga, BNI memperkuat transformasi digital untuk meningkatkan efisiensi layanan dan proses bisnis.  

Pemanfaatan teknologi dilakukan pada berbagai aspek operasional, mulai dari pengembangan layanan perbankan, peningkatan pengalaman nasabah, hingga optimalisasi proses kredit agar semakin cepat, efektif, dan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian. 

Selain itu, perseroan juga memperkuat penerapan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG) dan manajemen risiko guna menjaga kualitas aset dan ketahanan bisnis.  BNI secara konsisten memantau portofolio kredit, profil risiko, likuiditas, serta perkembangan kondisi ekonomi dan pasar sebagai bagian dari mitigasi risiko berkelanjutan. 

"Kami terus memperkuat governance, manajemen risiko, dan kapabilitas digital agar tetap mampu memberikan layanan terbaik kepada nasabah sekaligus menjaga pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkelanjutan.  

Dengan fondasi yang kuat tersebut, BNI optimistis dapat terus mendukung sektor riil dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia," ucap Okki. 

Dia menegaskan BNI akan terus mencermati perkembangan makroekonomi dan arah kebijakan moneter untuk memastikan strategi bisnis tetap adaptif.  

Dengan dukungan permodalan, likuiditas yang memadai, serta pengelolaan risiko yang prudent, perseroan menegaskan komitmennya menjaga kinerja berkelanjutan sekaligus mendukung stabilitas sistem keuangan nasional.

Sebelumnya, BI mengumumkan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 5,5% secara mengejutkan. Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan alasan bank sentral menaikkan BI Rate menjadi 5,5% karena pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di luar dari prediksi bank sentral.

“Tentu saja waktu membuat keputusan itu kan ada proyeksi-proyeksi. Nah, setiap minggu, setiap hari Selasa, itu Bank Indonesia melakukan evaluasi pelaksanaannya gimana. Apakah proyeksi ini sejalan atau enggak. Dalam berbagai evaluasi hari ini kita melihat lho kok pelemahan rupiah melebihi yang kita proyeksikan dulu,” kata Perry ditemui di Kompleks Parlemen, Selasa (9/6/2026).

Perry menegaskan, sesuai Undang-undang dan praktik yang dilakukan bank sentral selama ini memang mengambil keputusan setiap dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan yakni seperti pada rapat 19-20 Mei 2026. Saat itu, BI menaikkan suku bunga acuan 50 bps. 

Akan tetapi, setiap pekan atau pada Selasa bank sentral selalu melakukan evaluasi pelaksanaan keputusan tersebut. 

Diketahui, pengambilan keputusan dalam RDG Bank Indonesia diatur dalam Pasal 43 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, yang telah beberapa kali diubah, terakhir melalui Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (PPSK).

Rupiah di luar negeri membuka perdagangan dengan penguatan terbatas 0,01% di posisi Rp17.930/US$, tak lama berselang rupiah terpeleset 0,15% ke level Rp17.955/US$ pada 07.20 WIB, Kamis (11/6/2026). 

Pergerakan rupiah di luar negeri dipicu oleh ketidakpastian geopolitik yang kembali memanas antara AS dan Iran, setelah AS menyerang fasilitas pengolahan air bersih di Iran, dan membuat harga minyak mentah kembali naik. 

(mfd/ell)

No more pages