Kenaikan ekspektasi tersebut ditopang oleh ekspektasi lapangan kerja naik menjadi 128,1, ekspektasi kegiatan usaha naik menjadi 124,5.
Artinya, masyarakat masih percaya bahwa perusahaan akan kembali berekspansi, peluang kerja akan membaik dan aktivitas bisnis akan meningkat dalam enam bulan ke depan.
Optimisme tersebut juga didukung oleh belanja pemerintah yang tetap berjalan, proyek-proyek infrastruktur yang masih berlanjut, serta kondisi pasar tenaga kerja yang relatif stabil.
Akan tetapi, optimisme ini juga mulai kehilangan kekuatannya karena ekspektasi penghasilan justru turun tipis dari 136,9 menjadi 136,5.
Dari laporan IKK juga terlihat bahwa tabungan konsumen mulai menurun. Rasio tabungan (saving ratio) tercatat turun menjadi 17,5% pada Mei, dari posisi April sebesar 18,2%.
Di saat yang sama, rasio cicilan meningkat menjadi 10,2% dari sebelumnya 9,7%. Meski begitu, konsumsi tetap terjaga di level 72,3%, dari posisi sebelumnya 72,1%.
Angka konsumsi yang masih terjaga mengindikasikan bahwa rumah tangga tetap mempertahankan konsumsinya, meski harus mengorbankan tabungan dan menambah beban cicilan. Secara makro, pola ini terjadi jika pendapatan tidak tumbuh secepat kebutuhan pengeluaran.
Menurut Samuel Sekuritas, data IKK ini mengindikasikan bahwa permintaan domestik sedang memasuki fase normalisasi, bukan akselerasi.
Selain itu, hasil survei konsumen edisi Mei ini juga menunjukkan bahwa tekanan inflasi yang berasal dari sisi permintaan masih relatif terkendali, meskipun inflasi umum (headline inflation) belakangan meningkat.
“Kondisi ini memberikan ruang bagi BI untuk mempertahankan sikap kebijakan moneternya saat ini sambil tetap memfokuskan perhatian pada stabilitas nilai tukar rupiah,” sebut Samuel Sekuritas dalam catatannya.
Samuel Sekuritas memperkirakan, risiko penurunan sentimen yang lebih tajam berpotensi muncul jika tidak didukung oleh stimulus fiskal yang memadai dan perbaikan prospek dunia usaha.
Sebab, di tengah kebijakan moneter yang ketat, kenaikan inflasi terutama harga pangan, serta kondisi rupiah yang masih terdepresiasi dapat terus menekan daya beli rumah tangga dalam jangka pendek.
(dsp/aji)


























