Logo Bloomberg Technoz

Mengutip terminal Bloomberg per Selasa (9/6/2026), Vanguard kini menguasai 2,2 miliar saham BMRI dengan valuasi sekitar Rp8,78 triliun. Vanguard menghimpit saham BMRI dengan harga perolehan rata-rata Rp2.709 per saham.

Dengan demikian, Vanguard masih berada pada posisi floating profit kendati saham BMRI belakangan minus 19,8% year-to-date ke level Rp4.090 per saham pada penutupan perdagangan kemarin.

Manuver Vanguard memperbesar taruhan pada saham BMRI itu belakangan diikuti oleh pemodal kakap lainnya seperti Blackrock Inc, Lazard Inc hingga Abardeen Group Plc.

Blackrock, perusahaan investasi besutan Larry Fink, memperbesar taruhan sekitar 320,57 juta saham BMRI sejak Januari 2026 sampai awal Juni 2026.

Lewat transaksi itu, Blackrock kini menghimpit 1,95 miliar saham BMRI dengan valuasi mencapai Rp7,37 triliun. Adapun, Blackrock mencatat cost basis per share (average) untuk saham BMRI sekitar Rp3.417. Lewat harga perolehan itu, Blackrock masih mencatat posisi floating profit sekitar 16,45%.

Pengelola dana global lainnya Lazard Inc memperbesar taruhan sekitar 89,89 juta lembar pada saham BMRI selama kuartal I-2026 dengan harga perolehan rata-rata Rp4.487 per saham.

Kendati demikian, perusahaan manajemen aset yang didirikan pada tahun 1848 di New Orleans AS itu tidak menambah porsi saham BMRI selama dua bulan terakhir.

Lazard Inc kini menghimpit 535,46 juta lembar saham BMRI dengan valuasi mencapai Rp2,19 triliun. Harga rata-rata Lazard di BMRI berada di kisaran Rp3.397 per saham. Perusahaan pengelola dana global itu masuk ke BMRI sejak akhir 2005.

Sementara itu, perusahaan investasi berbasis di Inggris Abardeen Group Plc. menyerok 80,92 juta saham BMRI selama dua bulan terakhir dengan harga pelaksanaan rata-rata Rp4.137 per saham.

Perusahaan investasi yang kini dimpimpin Jason Windsor itu lebih dahulu memborong 140,48 juta saham BMRI pada kuartal III-2025 di harga Rp4.196 per saham.

Lewat aksi serok bertahap itu, Abardeen Group Plc. kini menghimpit 373,65 juta saham BMRI dengan valuasi sekitar Rp1,53 triliun. Pengelola dana investasi global itu telah membenamkan uang kelolaannya sejak akhir 2014 di Bank Mandiri.

Kuartal I

Sebelumnya, BMRI membukukan kinerja keuangan positif sepanjang kuartal I-2026. BMRI membukukan laba bersih Rp15,4 triliun, naik 16,6% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sekitar Rp13,19 triliun.

Kenaikan kinerja keuangan BMRI juga sejalan dengan semakin besarnya penyaluran kredit, yang tumbuh 17,4% secara tahunan menjadi Rp1.530 triliun. Pertumbuhan ini di melampaui industri yang tumbuh sekitar 9,37%.

Dana pihak ketiga (DPK) juga tercatat Rp1.675 triliun, naik 21,1% secara tahunan. Pertumbuhan ini melampaui industri yang sebesar 13,2%.

Kenaikan tersebut diimbangi dengan rasio NPL yang rendah, hanya sebesar 0,98%. Sedang rasio NPL industri ada di 2,17%.

“Kinerja yang kami hasilkan bukan hanya mencerminkan pertumbuhan bisnis semata, tetapi merupakan hasil nyata dari fokus sinergi yang melibatkan berbagai unsur perekonomian nasional,” kata Direktur Utama BMRI Riduan saat public expose kuartal I-2026, Jakarta, Selasa (21/4/2026).

Adapun, BMRI mencatat return on equity (RoE) di level 22,1% dan capital adequacy ratio (CAR) di level 19,7%.

Ekspansi bisnis BMRI juga belakangan diimbangi dengan pengelolaan kualitas aset yang disiplin, dengan NPL gross bank only terjaga di level 0,98% atau membaik 3 bps year-on-year, jauh di bawah rata-rata industri sebesar 2,17%, didukung pencadangan yang memadai dengan NPL coverage ratio di level 245%.

(naw)

No more pages