Logo Bloomberg Technoz

Di pasar yang sudah buka, baht Thailand melemah 0,27%, disusul ringgit Malaysia 0,19%, lalu dolar Singapura 0,05%, dan yen Jepang 0,04%.

Sebaliknya, won Korea Selatan masih melanjutkan penguatan kemarin sebesar 0,53%, disusul yuan offshore 0,03%. 

Pergerakan mata uang kawasan. (Bloomberg)

Naiknya suku bunga acuan sebesar 25 bps di luar jadwal regular memang cukup berhasil memberi sinyal kepada pasar bahwa bank sentral tak akan tinggal diam dalam menghadapi tekanan nilai tukar. 

Meski demikian, respons pasar sejauh ini menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi rupiah tak sekadar berkaitan dengan tingkat suku bunga. Sejak kenaikan suku bunga sebesar 50 bps pada Mei lalu, kinerja rupiah tetap kurang menggembirakan dan merosot 2,6%.

Menurut Ekonom Bloomberg Economics Tamara Henderson, kenaikan suku bunga acuan kemarin kemungkinan masih jauh dari cukup untuk membalikkan sentimen negatif pasar dan menstabilkan rupiah.

"Kecuali pemerintah melakukan perubahan kebijakan yang kredibel dan mampu secara signifikan mengurangi risiko investasi yang terakumulasi," kata Henderson dalam catatannya. 

Dia memperkirakan BI perlu menaikkan suku bunga sebesar 75 bps pada Rapat Dewan Gubernur (RDG), yang dijadwalkan pada 18 Juni mendatang, agar dapat secara nyata memperlambat laju depresiasi rupiah. 

Pandangan Henderson yang menilai keputusan BI menaikkan suku bunga acuan dapat dibaca sebagai langkah pengobatan pereda gejala, belum menjadi penyelesaian atas sumber 'penyakit' rupiah.

Intervensi di pasar valas dan kenaikan suku bunga memang dapat memperlambat lajut depresiasi, akan tetapi tak cukup untuk memulihkan kepercayaan jika pasar masih melihat adanya peningkatan risiko kebijakan. 

Faisal Rachman, Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI), memperkirakan BI akan kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75% pada kuartal III-2026. "Sebagai bagian dari upaya berkelanjutan menjaga stabilitas markoekonomi dan pasar keuangan," kata Faisal.  

Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, memproyeksikan BI akan  lebih agresif. "Kami memperkirakan Bank Indonesia akan kembali mengumumkan kenaikan suku bunga pada 18 Juni mendatang sebesar 50 basis poin (bps), sehingga BI Rate menjadi 6%," sebut Lionel. 

Dengan upaya pengetatan moneter yang telah dilakukan, bagaimana pergerakan rupiah hari ini? 

Analisis Teknikal

Analisis Teknikal Rupiah Rabu 10 Juni 2026 (Sumber: Bloomberg)

Secara teknikal, rupiah berpotensi melanjutkan rebound hari ini. Ada peluang menguat ke resistance paling potensial hingga menembus level Rp18.000/US$, dan juga kembali menuju Rp17.950/US$.

Jika nantinya nilai rupiah berhasil menguat hingga Rp17.900/US$, maka ada kemungkinan untuk melanjutkan tren penguatan menembus Rp17.700/US$.

Sedangkan rupiah memiliki level support psikologis di level Rp18.100/US$. Apabila level ini berhasil tertembus, maka mengonfirmasi laju support selanjutnya di Rp18.200/US$.

(riset/aji)

No more pages