Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat posisi jual bersih investor asing sekitar Rp1,27 triliun pada perdagangan Kamis (4/6/2026).
Posisi jual investor asing yang relatif besar sejak awal tahun itu berlanjut sampai perdagangan kemarin di tengah tren pelemahan rupiah dan surplus neraca dagang yang makin sempit belakangan.
Belakangan, aksi jual besar-besaran itu membuat indeks harga saham gabungan atau IHSG kembali melorot ke zona merah. Indeks komposit melemah 1,7% ke level 5.839 pada perdagangan kemarin.
Pejabat Sementara (PJS) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, otoritas pasar modal bersama regulator telah melakukan berbagai langkah yang sesuai dengan kewenangannya untuk mengembalikan kepercayaan investor.
"Ya, tentu kami bersama-sama melakukan segala upaya yang bisa kami lakukan, tadi saya sampaikan, untuk bisa memulihkan kepercayaan tersebut," kata Jeffrey kepada wartawan di Gedung BEI, Jakarta pada Kamis (4/6/2026).
Investor asing telah mencatatkan jual bersih mencapai Rp68,5 triliun di seluruh pasar secara year-to-date.
Sementara itu, depresiasi rupiah yang berlanjut ke level Rp18.033 per dolar AS turut menambah tekanan pada IHSG sampai perdagangan kemarin.
Melansir data Bloomberg, sepanjang pekan ini rupiah telah melemah 1,35% menempati posisi kedua terbawah setelah won Korea Selatan yang melemah 2,97%.
“Valuta asing regional telah tertekan oleh dolar AS yang kuat dan harga minyak yang tinggi serta arus keluar modal asing,” kata Wee Khoon Chong, ahli strategi pasar senior APAC di BNY, seperti dikutip Bloomberg News.
Di sisi lain, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia menjelaskan, kekhawatiran seputar tata kelola dan kredibilitas kebijakan pemerintah makin meningkat, seiring langkah lembaga pemeringkat global, Fitch dan Moody's merevisi outlook Indonesia menjadi negatif.
Langkah keduanya kemudian memunculkan spekulasi di kalangan pelaku pasar jika S&P akan mengambil langkah serupa.
"Yang menjadi masalah utama bukanlah pertumbuhan ekonomi itu sendiri, melainkan kekhawatiran yang semakin meningkat mengenai kualitas kelembagaan, kepastian kebijakan, dan konsistensi pengambilan keputusan," jelas Liza.
Jika dirata-ratakan, IHSG tercatat terkoreksi 0,88% selama perdagangan saham pada Juni.
Pada perdagangan sepanjang bulan Juni ini, IHSG terus berada di zona merah dengan akumulasi penurunan 6,4% menyentuh posisi 5.724. IHSG pun bergerak agresif dengan kecenderungan fluktuasi yang tinggi.
IHSG melemah bersamaan dengan rilis data neraca perdagangan barang Indonesia, di mana neraca dagang mengalami penyempitan nilai surplus menjadi sebesar US$89,1 juta pada April 2026.
Raihan tersebut jauh lebih kecil ketimbang surplus pada Maret 2026 yang mencapai US$3,32 miliar. Realisasi surplus dagang April ini juga jauh lebih rendah dibanding proyeksi konsensus Bloomberg menghasilkan median surplus perdagangan April sebesar US$1,31 miliar.
Adapun level tersebut turut menjadi yang terkecil sejak sejak April 2020 yang defisit US$375,41 juta. Surplus April 2026 menjadi yang terendah selama periode surplus 72 bulan beruntun, mengonfirmasi tekanan perlambatan perekonomian dalam negeri.
(mfd/naw)



























