Reza menyematkan rentang support di kisaran 5.813 dengan area resistance pada level 6.060. Belakangan, dia menuturkan, IHSG berbalik arah pada perdagangan sesi II kemarin dengan penguatan saham tambang.
“Namun tekanan jual berlanjut dari perdagangan sebelumnya akibat maraknya berbagai rumor di pasar domestik di tengah rendahnya kepercayaan investor,” tuturnya.
Sementara itu, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta menyematkan area support di level 5.733 dan 5.602 dengan area resistance di 5.944 dan 6.075.
“Secara teknikal, IHSG sejatinya sudah dalam kondisi extremly oversold berdasarkan indikator RSI meskipun downtrend masih terjadi,” kata Nafan.
Para pelaku pasar masih mencerna efek lanjutan dari memburuknya persepsi risiko domestik setelah muncul tekanan terhadap instrumen investasi nasional dan meningkatnya kehati-hatian investor asing
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat posisi jual bersih investor asing sekitar Rp1,27 triliun pada perdagangan Kamis (4/6/2026).
Posisi jual investor asing yang relatif besar sejak awal tahun itu berlanjut sampai perdagangan kemarin di tengah tren pelemahan rupiah dan surplus neraca dagang yang makin sempit belakangan.
Belakangan, aksi jual besar-besaran itu membuat indeks harga saham gabungan atau IHSG kembali melorot ke zona merah. Indeks komposit melemah 1,7% ke level 5.839 pada perdagangan kemarin.
“Dengan demikian, kekhawatiran terhadap pelemahan rupiah, stabilitas kebijakan, dan perpindahan dana ke aset yang dianggap lebih defensif masih menjadi faktor yang membuat investor belum agresif masuk kembali ke saham,” kata Nafan.
Investor asing telah mencatatkan jual bersih mencapai Rp68,5 triliun di seluruh pasar secara year-to-date.
Sementara itu, depresiasi rupiah yang berlanjut ke level Rp18.033 per dolar AS turut menambah tekanan pada IHSG sampai perdagangan kemarin.
Melansir data Bloomberg, sepanjang pekan ini rupiah telah melemah 1,35% menempati posisi kedua terbawah setelah won Korea Selatan yang melemah 2,97%.
“Valuta asing regional telah tertekan oleh dolar AS yang kuat dan harga minyak yang tinggi serta arus keluar modal asing,” kata Wee Khoon Chong, ahli strategi pasar senior APAC di BNY, seperti dikutip Bloomberg News.
Di sisi lain, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia menjelaskan, kekhawatiran seputar tata kelola dan kredibilitas kebijakan pemerintah makin meningkat, seiring langkah lembaga pemeringkat global, Fitch dan Moody's merevisi outlook Indonesia menjadi negatif.
Langkah keduanya kemudian memunculkan spekulasi di kalangan pelaku pasar jika S&P akan mengambil langkah serupa.
"Yang menjadi masalah utama bukanlah pertumbuhan ekonomi itu sendiri, melainkan kekhawatiran yang semakin meningkat mengenai kualitas kelembagaan, kepastian kebijakan, dan konsistensi pengambilan keputusan," jelas Liza.
Jika dirata-ratakan, IHSG tercatat terkoreksi 0,88% selama perdagangan saham pada Juni.
Pada perdagangan sepanjang bulan Juni ini, IHSG terus berada di zona merah dengan akumulasi penurunan 6,4% menyentuh posisi 5.724. IHSG pun bergerak agresif dengan kecenderungan fluktuasi yang tinggi.
IHSG melemah bersamaan dengan rilis data neraca perdagangan barang Indonesia, di mana neraca dagang mengalami penyempitan nilai surplus menjadi sebesar US$89,1 juta pada April 2026.
Raihan tersebut jauh lebih kecil ketimbang surplus pada Maret 2026 yang mencapai US$3,32 miliar. Realisasi surplus dagang April ini juga jauh lebih rendah dibanding proyeksi konsensus Bloomberg menghasilkan median surplus perdagangan April sebesar US$1,31 miliar.
Adapun level tersebut turut menjadi yang terkecil sejak sejak April 2020 yang defisit US$375,41 juta. Surplus April 2026 menjadi yang terendah selama periode surplus 72 bulan beruntun, mengonfirmasi tekanan perlambatan perekonomian dalam negeri.
(naw)


























