Adapun, rencana pembelian kembali saham itu akan berdampak pada penurunan aset dan ekuitas perseroan sebanyak-banyaknya Rp4 triliun.
Setelah pembelian kembali saham, total aset dan total ekuitas TLKM masing-masing sekitar Rp282,28 triliun dan Rp145,05 triliun, dengan earnings per share naik ke level Rp183,1.
Pembelian kembali saham akan dilakukan hingga 12 bulan sejak tanggal RUPS yang menyetujui agenda itu yang akan diselenggarakan pada 8 Juni 2026.
Manuver TLKM memperbesar porsi buyback itu terjadi seiring dengan pelemahan peforma saham portofolio Danantara itu di papan bursa sampai penutupan perdagangan, Kamis (5/6/2026).
Saham TLKM merosot 16,67% ke level Rp2.900 per saham year-to-date seiring dengan koreksi pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Indeks komposit melorot 32,46% sejak awal tahun.
Di sisi lain, Pejabat Sementara (PJS) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, otoritas pasar modal bersama regulator telah melakukan berbagai langkah yang sesuai dengan kewenangannya untuk mengembalikan kepercayaan investor terkait pelemahan IHSG belakangan.
"Ya, tentu kami bersama-sama melakukan segala upaya yang bisa kami lakukan, tadi saya sampaikan, untuk bisa memulihkan kepercayaan tersebut," kata Jeffrey kepada wartawan di Gedung BEI, Jakarta pada Kamis (4/6/2026).
Saat ditanya apakah terdapat arahan khusus dari Presiden Prabowo Subianto terkait gejolak IHSG, Jeffrey tidak menjawab secara langsung. Ia hanya menegaskan koordinasi antara BEI dan regulator terus berjalan.
"Tentu kami dalam keseharian kami selalu berkoordinasi dengan OJK," imbuhnya.
Kinerja TLKM
Berdasarkan laporan kinerja kuartal pertama 2026, Telkom membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp37,2 triliun atau meningkat 1,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pencapaian tersebut mencerminkan konsistensi perusahaan dalam menjaga performa operasional sekaligus mempercepat eksekusi transformasi bisnis melalui strategi TLKM 30.
Selain mencatatkan pertumbuhan pendapatan, Telkom juga membukukan EBITDA sebesar Rp18,0 triliun dengan EBITDA margin mencapai 48,3 persen. Sementara itu, laba bersih tercatat sebesar Rp4,3 triliun dengan margin laba bersih 11,7 persen.
Perseroan juga melaporkan laba bersih yang dinormalisasi sebesar Rp5,1 triliun dengan margin laba bersih yang dinormalisasi mencapai 13,8 persen.
Penurunan laba bersih secara tahunan disebut dipengaruhi oleh percepatan depresiasi dan proses normalisasi bisnis yang masih berlangsung dalam fase transformasi perusahaan.
Kondisi tersebut juga tercermin dari arus kas operasional yang tumbuh 3,1 persen secara tahunan menjadi Rp17,3 triliun. Pertumbuhan tersebut didorong oleh implementasi program efisiensi biaya serta peningkatan disiplin dalam proses penagihan.
Direktur Utama Telkom Dian Siswarini mengatakan perusahaan akan terus mempercepat implementasi strategi transformasi untuk memperkuat daya saing sekaligus menciptakan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan.
“Tahun ini, Telkom akan semakin gencar dalam mengakselerasi eksekusi strategi TLKM 30 demi menciptakan value yang optimal dan memastikan keberlangsungan perusahaan yang semakin solid ke depannya,” ujar Dian Siswarini.
Pada segmen B2C yang mencakup layanan seluler dan fixed broadband, Telkomsel mencatatkan pendapatan konsolidasian sebesar Rp27,6 triliun atau tumbuh 1,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh kontribusi bisnis digital yang terus berkembang. Selain itu, penggunaan data pelanggan atau payload data juga meningkat 2,3 persen secara tahunan.
Telkomsel berhasil meningkatkan rata-rata pendapatan per pelanggan atau ARPU menjadi Rp45.100. Angka tersebut tumbuh 6,4 persen dibandingkan kuartal pertama tahun sebelumnya.
Peningkatan ARPU mencerminkan keberhasilan strategi perusahaan dalam menerapkan disiplin harga, menyederhanakan produk, dan menghadirkan pengalaman pelanggan yang lebih baik.
(naw)

























