Logo Bloomberg Technoz

Kemudian, Scorsese membahas penataan adegan terkenal dalam karyanya yaitu film bertemakan kriminal Goodfellas dengan menggunakan steadicam, yang mengikuti gangster Henry Hill (Ray Liotta) saat dirinya berjalan melalui klub malam Copacabana dan mencatat bagaimana setiap vignette dalam scene tersebut harus ditata secara rumit.

Pengembangan AI di China, dimana model AI mengendalikan robot. Ilustrasi: Qilai Shen/Bloomberg

“Jika Anda memiliki alat seperti ini, Anda dapat memecahkan masalahnya jauh lebih cepat dan Anda dapat menghemat waktu produksi, serta mengurangi kelelahan fisik pada kru,” terang Scorsese dalam video tersebut.

CEO sekaligus salah satu pendiri Black Forest Labs, Robin Rombach, mengatakan kepada New York Times bahwa kemitraan Scorsese merupakan “bukti nyata bahwa ini berhasil.” Sementara itu, juru bicara sutradara itu menyebut bahwa Scorsese diperkenalkan kepada Black Forest Labs lewat perusahaan investasi BroadLight Capital—investor di Black Forest Labs yang didirikan oleh Rick Yorn atau manajer Scorsese. 

Berdasakan laporan Times, salah satu pendiri agensi Hollywood terpopuler Creative Artist Agency (CAA), Michael Ovitz, yang juga berinvestasi di perusahaan AI tersebut, pun membantu mewujudkan kemitraan ini. Namun tak jelas apakah Scorsese sendiri sudah berinvestasi di Black Forest Labs. Perusahaan tersebut tak menanggapi permintaan untuk memberikan komentar segera. Perwakilan Scorsese juga menolak buat berkomentar.

Di samping itu, Scorsese dalam pernyataannya mengatakan bahwa dia menguji alat-alat AI Black Forest Labs untuk membantunya membuat storyboard  sebuah adegan dalam film mendatang. Dia mengeklaim alat AI tersebut membantunya mengekspresikan gambaran yang ada di benaknya dengan lebih baik.

“Selama proses pra-produksi, waktu adalah biaya, dan ini memungkinkan kami untuk bergerak lebih cepat tanpa mengorbankan kualitas atau keahlian,” kata Scorsese.

Padangan Steven Spielberg Berbeda

Di sisi lain, sutradara Hollywood Steven Spielberg menyuarakan penentangannya terhadap AI dalam pembuatan film selama penampilannya baru-baru ini pada sebuah podcast “IMO” milik Michelle Obama dan Craig Robinson. Meskipun Spielberg mengatakan dirinya berpikir kercerdasan buatan bisa berguna untuk menemukan solusi untuk masalah medis, dia tak ingin AI mengambil alih proses kreatif di Hollywood.

“Yang tidak saya sukai dari AI adalah ketika AI mengambil posisi atau ada kursi kosong di meja penulis,” ungkap Spielberg, mengutip Variety, Kamis. “Saya tidak bersedia digantikannya.”

Papan iklan AI milik Robert Bosch GmbH pada sebuah pamerandi Beijing, China. dok: Qilai Shen/Bloomberg

Spielberg menambahkan, “saya tidak percaya ada pengganti untuk jiwa. Saya tidak berpikir itu adalah algoritma yang tidak dapat diciptakan…Komputer yang berpikir bahwa dia merasakan lebih dari yang kita rasakan adalah hal yang bertentangan dengan cara saya dibesarkan dan bagaimana saya akan menjalankan profesi saya sebagai produser dan sutradara di masa depan,” imbuh Spielberg.

Sutradara film Jaws itu menyebut bahwa dia bisa melihat masa depan di mana AI bisa membantu “menghemat banyak pekerjaan” dengan melakukan sejumlah tugas seperti mencari lokasi. Tetapi, Spielberg tak pernah ingin AI memberi tahu dirinya atau siapa pun di timnya bagaimana cara membuat film.

“Jangan beri tahu saya bagaimana menulis dialog untuk karakter ini. Jangan beri tahu saya ke mana kamera harus diarahkan. Dan juga jangan beri tahu saya seperti apa tampilan setnya, kecuali jika AI hanyalah alat dalam kotak peralatan besar milik perancang produksi,” ujar dia.

“Gunakan AI sebagai alat, tetapi jangan gunakan AI sebagai penentu akhir dalam hal kreatif apa pun. Di situlah saya menarik garis batas,” pungkas Spielberg.

(wep)

No more pages