Logo Bloomberg Technoz

APBN mengalami Defisit akibat total penerimaan negara masih lebih rendah dibanding total belanja negara.

Rinciannya, realisasi pendapatan negara sampai 31 April 2026 tercatat Rp918 triliun atau 29,1% dari total target pendapatan negara dalam APBN setahun penuh yang sebesar Rp3.153 triliun. Nilainya tumbuh 13,3% dari pendapatan negara pada periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, realisasi belanja negara Rp1.082,8 triliun atau 28,2% dari target belanja negara setahun penuh sebesar Rp3.842 triliun. Nilainya membengkak 34,3% dari realisasi belanja periode yang sama tahun lalu.

Dengan demikian, pemerintah harus menjalankan pembiayaan anggaran mencapai Rp298,5 triliun atau 43,3% dari target pembiayaan anggaran sepanjang tahun yang sebesar Rp689,1 triliun. Angka ini meningkat 6,2% dibanding realisasi periode yang sama tahun lalu.

Kinerja keseimbangan primer kini telah berbalik arah menjadi surplus Rp28 triliun, dari semula mencatatkan defisit hingga Rp95,8 triliun pada Maret 2026. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa pemerintah tak lagi melakukan gali lubang utang baru untuk menutup lubang utang yang lama. 

Kendati demikian, realisasi ini masih lebih rendah dibanding posisi keseimbangan primer pada periode yang sama tahun lalu, yakni surplus mencapai Rp173,9 triliun.

(lav)

No more pages