Pengungkapan ini juga terjadi di tengah spekulasi bahwa Presiden China Xi Jinping akan mengunjungi Pyongyang. Saat terakhir kali berkunjung ke Korut pada 2019, Xi mengatakan kepada Kim bahwa dunia menginginkan kemajuan dalam pembicaraan nuklir antara Pyongyang dan Washington.
Donald Trump dan Kim telah bertemu tiga kali selama masa jabatan pertama presiden AS tersebut. Namun, rangkaian pertemuan itu gagal meyakinkan Kim untuk mengurangi program senjata nuklir Korut.
Menurut laporan KCNA, Kim mengatakan kapasitas produksi "bahan nuklir kelas senjata" Korut telah meningkat lebih dari dua kali lipat dalam lima tahun terakhir. Ia juga memperkenalkan "pedoman tindakan" untuk semakin mempercepat "penguatan kualitas dan kuantitas" kekuatan nuklir negaranya. KCNA tidak menjelaskan lebih lanjut rincian pedoman tersebut.
Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi sebelumnya memperingatkan bahwa Korut telah secara signifikan meningkatkan kapasitasnya untuk memproduksi senjata nuklir dan memperkuat aktivitas di berbagai fasilitas utama.
"Dengan ambisi nuklir Iran yang secara efektif berhasil ditekan, Korea Utara tampaknya bertekad menegaskan bahwa mereka sudah merupakan negara yang secara de facto memiliki senjata nuklir," kata Yang Moo-jin, profesor di University of North Korean Studies di Seoul.
(bbn)































