Logo Bloomberg Technoz

Lim dan tim strategi valuta asing UBS memproyeksikan tekanan terhadap rupiah masih terus berlanjut karena sejumlah faktor.

"Yakni ketidakpastian kebijakan, kekhawatiran terhadap prospek pertumbuhan ekonomi dan fiskal, serta volatilitas arus modal asing," kata Lim dalam catatannya.

Senada, analis strategi dari BNP Paribas menyebut BI kemungkinan kan kembali melakukan intervensi yang lebih agresif. "Level Rp18.000/US$ menjadi titik psikologis yang sangat diperhatikan pasar," katanya seperti dikutip Bloomberg News

Para analis dan ekonom memperkirakan rupiah yang telah menembus Rp18.000/US$ akan menyebabkan arus keluar dana asing semakin deras dari pasar keuangan Indonesia, melanjutkan tren yang terjadi kemarin. 

Melansir data yang dihimpun Bloomberg, pada sesi perdagangan hari ini, arus keluar dana asing tercatat Rp993,29 miliar pada perdagangan saham seluruh pasar. Di pasar reguler, investor asing melepas kepemilikan saham sebesar Rp864,07 miliar. 

Sebagai catatan, pada pertemuan Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan lalu, Gubernur Perry Warjiyo dan sejawat telah menaikkan BI Rate sebanyak 50 bps menjadi 5,75%, melampaui ekspektasi para ekonom yang memperkirakan BI Rate hanya akan naik sebanyak 25 bps.

Pelemahan rupiah yang terjadi sepanjang awal tahun membuat BI tak punya banyak pilihan. Bahkan, setelah BI Rate naik melampaui perkiraan ekonom, rupiah masih melanjutkan pelemahan.

Tekanan Rupiah

Pelemahan rupiah kali ini tak datang dari faktor tunggal. Dari sisi eksternal, kondisi geopolitik yang masih bergejolak masih membayangi mata uang kawasan, termasuk rupiah. Sedangkan dari sisi domestik, berbagai sentimen memukul rupiah secara bertubi-tubi dan menyebabkan ambruknya rupiah pada sesi perdagangan kali ini.

Pertama, Moody's Ratings untuk kali pertama memberikan peringkat kredit Baa2 kepada PT Danantara Investment Management (DIM), entitas pengelola investasi yang berada di bawah struktur Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara). Outlook yang disematkan adalah negatif.

Padahal, Danantara dibentuk sebagai mesin pertumbuhan baru dengan investasi jumbonya pada sejumlah proyek. Namun, rating ini membawa sentimen buruk bagi mesin yang sebenarnya belum cukup panas untuk berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi.

Kedua, data ekonomi domestik yang kurang menggembirakan. Awal pekan ini, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan Indonesia untuk periode April membukukan surplus US$ 89,1 juta. Meski masih surplus, ini menjadi yang terkecil sejak April 2020 yang defisit US4 375,41 juta. Surplus April 2026 menjadi yang terendah selama periode surplus 72 bulan beruntun.

Ketiga, buramnya arah kebijakan fiskal membuat investor menghindari pasar keuangan Indonesia. Belanja-belanja yang bersifat populis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) terus digalakkan. Pemerintah juga berkomitmen menjaga harga Bahan Bakar Minyak (BBM) tidak naik di tengah lonjakan harga minyak dunia akibat perang di Timur Tengah. Di sisi lain, penerimaan negara yang masih panggang jauh dari api juga turut memperparah sentimen yang ada. 

Keempat, komentar lembaga rating yang memperingatkan bahwa Indonesia berpotensi diturunkan ke pasar frontier, lalu disusul perubahan outlook terhadap surat utang RI yang disematkan oleh lembaga lainnya seperti Fitch Ratings, dan Moody's, ikut menambah beban bagi pergerakan rupiah hingga hari ini. 

(dsp/aji)

No more pages