Sebab, walaupun pemerintah menawarkan yield relatif tinggi dibandingkan negara lain, tetapi keuntungan kupon dan capital gain berisiko tergerus oleh depresiasi rupiah. Akibatnya, sebagian investor memilih mengurangi eksposur pada aset rupiah, termasuk SUN.
Inversi Yield Masih Terjadi
Meski tenor panjang juga mencatatkan aksi jual, tetapi kenaikan yield tenor panjang relatif lebih terbatas. Yield 30 tahun hanya naik 0,8 bps menjadi 6,97%, sementara tenor 40 tahun naik 1 bps menjadi 6,93%.
Hal ini menggambarkan bahwa pasar masih mempertimbangkan pasar Indonesia dalam jangka panjang. Namun begitu, bentuk kurva yield yang mulai mendatar juga menimbulkan kekhawatiran pasar akan terjadinya resesi dalam waktu dekat.
Selisih yield antara tenor 1 tahun dan 10 tahun kini hanya 39 bps, jauh lebih sempit dibanding kondisi nornal. Selain itu, terjadi inversi yield yang ditandai dengan tingginya imbal hasil tenor pendek daripada tenor panjang.
Yield tenor 1 tahun jauh lebih tinggi daripada tenor 10 tahun yang hanya 6,74%. Bahkan tenor 2 tahun sebesar 6,91%, yield tenor 13 tahun 6,92%, dan tenor 18 tahun sebesar 6,93%, hingga 40 tahun 6,93% dalam kondisi struktur kurva yang tak lagi menanjak secara normal.
Dalam kondisi normal, situasinya seharusnya berkebalikan. Investor biasanya meminta kompensasi lebih besar untuk mengunci dana dalam jangka waktu yang lebih lama karena risiko yang dihadapi juga lebih besar.
Oleh karena itu, yield obligasi tenor panjang umumnya berada di atas tenor pendek. Ketika pola tersebut berbalik, pasar menyebutnya sebagai inverted yield curve atau inversi kurva imbal hasil.
Inversi yield seperti ini biasanya mencerminkan respons pasar yang menilai bahwa risiko jangka pendek jauh lebih besar daripada risiko jangka panjang.
Dalam sejarah ekonomi modern, inversi kurva yield kerap menjadi sinyal awal perlambatan ekonomi. Di Amerika Serikat (AS), hampir setiap resesi sejak dekade 1970-an didahului oleh inversi kurva yield US Treasury.
Sebelum resesi 1990, pecahnya gelembung dot-com pada 2001, hingga Krisis Keuangan Global 2008, kurva yield terlebih dahulu masuk ke wilayah negatif.
(dsp)





























