Berikut adalah saham–saham berbobot besar yang menjadi sebab balik arahnya IHSG:
- PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) jatuh 9%
- PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) jatuh 6,58%
- PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) jatuh 5,68%
- PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) jatuh 5,11%
- PT Barito Pacific Tbk (BRPT) jatuh 4,41%
Rupiah All Time Low, Tembus Rp17.900/US$
Rupiah pada perdagangan pagi hari ini melanjutkan tren pelemahan, hingga menyeret IHSG ke zona merah. Mengacu data Bloomberg, rupiah tengah melemah 0,42% di pasar spot menembus Rp17.912/US$.
Jika rupiah terus melanjutkan pelemahan pada perdagangan hari ini, maka support menarik dicermati pada level Rp17.950/US$ dan selanjutnya menuju Rp18.000/US$ secara potensial menahan rupiah.
Sentimen di pasar dirasa terus memburuk. Pelebaran defisit fiskal dan neraca transaksi berjalan, terus membayangi laju rupiah. Bank Indonesia (BI) mengumumkan Neraca Pembayaran Indonesia Kuartal I-2026 yang tercatat defisit US$9,15 miliar. Jauh lebih dalam daripada defisit kuartal sebelumnya US$6,07 miliar.
Transaksi berjalan juga mencatat defisit sebesar US$4 miliar atau 1,1% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini turun tajam dibanding kuartal sebelumnya yang masih surplus US$2,5 miliar. Artinya, dalam satu kuartal saja terjadi perubahan mencapai US$6,5 miliar.
Lebih lanjut, Indonesia mencatatkan lonjakan inflasi menjadi 3,08% pada Mei. Inflasi periode Mei tak lagi hanya terjadi pada pangan, tetapi hampir seluruh kelompok pengeluaran mengalami kenaikan harga. Kelompok makanan dan minuman naik 4,94%, transportasi 2,3%, restoran 2,24%, kesehatan 1,70%, pendidikan 1,15%, hingga perawatan pribadi mencapai 10,35%.
Hal ini mengindikasikan masyarakat menghadapi kenaikan biaya hidup dari berbagai sisi sekaligus. Dalam ekonomi, kondisi ini disebut broad–based inflation atau inflasi yang menyebar ke seluruh sektor.
Di sisi lain, lonjakan inflasi ke 3,08% menempatkan Bank Indonesia dalam posisi sulit. Meski inflasi masih berada di rentang sasaran, namun laju kenaikan yang mulai menyebar ke berbagai kelompok pengeluaran menunjukkan tekanan harga tak lagi bersifat sementara.
(fad/naw)





























