Logo Bloomberg Technoz

Terdapat sejumlah faktor yang memicu kenaikan premi risiko Indonesia. Salah satunya adalah meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi fiskal, terutama di tengah kenaikan harga minyak dunia yang berpotensi memperbesar tekanan terhadap anggaran negara.

Selain itu, pasar juga mencermati sejumlah kebijakan yang dinilai kurang konsisten, termasuk perubahan aturan royalti sektor pertambangan dan wacana penunjukan eksportir tunggal untuk komoditas tertentu melalui PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI).

Sentimen negatif lainnya datang dari lembaga pemeringkat internasional. Outlook Indonesia dari Moody's dan Fitch yang menjadi sorotan investor turut meningkatkan persepsi risiko terhadap aset-aset domestik.

Di pasar saham, tekanan juga datang dari keputusan MSCI yang mengeluarkan enam saham berkapitalisasi besar dari indeksnya. Langkah tersebut memicu arus keluar dana pasif (passive outflow) dan memperburuk sentimen terhadap pasar ekuitas Indonesia.

Meski demikian, BRI Danareksa menilai koreksi yang terjadi telah membuat valuasi saham Indonesia menjadi menarik. Salah satu indikator yang digunakan adalah selisih (spread) antara earnings yield IHSG dan imbal hasil obligasi pemerintah yang kini mencapai 242 basis poin.

Angka tersebut jauh di atas rata-rata historis, yang menurut mereka menunjukkan investor telah meminta kompensasi risiko yang sangat tinggi untuk berinvestasi di pasar saham Indonesia.

Dengan kata lain, sebagian besar risiko yang dikhawatirkan pasar saat ini dinilai sudah tercermin dalam harga saham.

Di sisi fundamental, BRI Danareksa juga menilai prospek laba emiten masih cukup solid. Mereka memperkirakan pertumbuhan laba perusahaan tercatat tetap berada di kisaran 13%-14% dalam beberapa tahun ke depan, meskipun ekonomi menghadapi berbagai tantangan.

Lebih lanjut, pemangkasan target indeks terutama disebabkan oleh perubahan asumsi valuasi. BRIDS menilai, premi yang selama ini diberikan investor kepada kelompok konglomerasi besar di Indonesia telah menyusut, sehingga kelipatan valuasi pasar yang digunakan dalam proyeksi juga harus disesuaikan.

Dalam strategi investasinya, BRI Danareksa merekomendasikan saham-saham defensif yang dinilai memiliki valuasi menarik di tengah ketidakpastian pasar, seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA).

Sementara untuk investor yang mencari potensi pertumbuhan lebih tinggi, broker tersebut memilih PT Indosat Tbk (ISAT), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT Timah Tbk (TINS) sebagai saham unggulan yang dapat memperoleh manfaat dari prospek pertumbuhan bisnis dan perbaikan sentimen sektor komoditas.

(cpa/naw)

No more pages