Logo Bloomberg Technoz

Menurut Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian, tingkat imbal hasil tenor pendek yang sudah melampaui tenor panjang tersebut adalah yang disebut inverted alias kurva imbal hasil terbalik. “Kurva [imbal hasil] rusak karena Kementerian Keuangan mau jaga cost of fund [biaya dana]. Seharusnya [yield] sudah dibiarkan naik,” kata Fakhrul.

Menurut Fakhrul, dengan pergerakan kurva imbal hasil SUN yang kini malah membentuk inversi, sinyal yang dibaca pasar menjadi semakin negatif. Nilai tukar rupiah akan bisa lebih lemah lagi. “Bank Indonesia dan Kemenkeu tidak menguatkan rupiah, justru memperlemah karena masih mempertimbangkan cost of fund. Seharusnya dibuat harga aset [rupiah] lebih menarik. Atau, memang kalau begini, ujungnya pasar akan beranggapan rupiah sengaja dilemahkan lebih jauh oleh otoritas demi menjaga cost of fund,” jelas Fakhrul.

Otoritas diduga membiarkan situasi seperti ini supaya biaya bunga utang pemerintah bisa ditekan. Meski rupiah yang lemah juga mungkin bisa positif bagi ekspor. Akan tetapi, “Berisiko pada pelemahan confidence ekonomi secara keseluruhan yang menurut saya tidak sepadan karena ujungnya untuk menjalankan perekonomian harus ada dukungan dari swasta,” katanya.

Pada perdagangan dari pagi hingga jelang tengah hari ini, nilai tukar rupiah bergerak rata-rata di kisaran Rp17.882/USS$ dengan level terlemah di posisi Rp17.894/US$. Sementara indeks saham terlihat menguat sejak awal perdagangan dengan kini bergerak di kisaran 6.177, menguat 0,78%. Hari ini, para pelaku pasar menunggu rilis data inflasi dan kinerja neraca dagang yang akan disampaikan oleh Badan Pusat Statistik.

(red)

No more pages