Untuk itu, dia mewaspadai gabungan kondisi tersebut bakal mengakibatkan adanya pemutusan hubungan kerja (PHK).
Bahkan, di industri batu bara, pemotongan kuota produksi hingga 25% tahun ini sudah mengakibatkan sejumlah penambang merumahkan karyawannya.
“Ya sudah ada yang merumahkan karyawan dampak dari pemotongan RKAB batu bara, karena porsi yang dipotong cukup besar, 25% atau sekitar 200 juta ton batu bara,” kata Ardhi ketika dihubungi, dikutip Senin (1/6/2026).
“Harga solar industri saat ini sudah berkisar di atas Rp20.000 [per liter], bahkan di daerah Indonesia Timur sudah mendekati Rp30.000. Hal ini tentu memberatkan bagi sektor industri. Porsi biaya bahan bakar saat ini bisa mencapai 40% dari total komponen biaya penambangan,” ungkap Ardhi.
Kurang Alat Berat
Setala, Ketua Dewan Penasihat Perhapi Rizal Kasli menyatakan telatnya penerbitan RKAB dan pemangkasan kuota produksi membuat perusahaan tambang mengurangi pemakaian alat berat dan melakukan pengurangan tenaga kerja.
Dia mencatat kuota produksi batu bara terpangkas sekitar 190 juta ton, atau menjadi 600 juta ton dari realisasi tahun lalu sekitar 790 juta ton.
Hal ini diprediksi membuat perusahaan tambang melakukan PHK hingga 35.000—50.000 orang.
“Hanya PKP2B dan BUMN saja yang bisa mendapatkan kuota produksi maksimal sesuai rencana kerja yang diajukan. [Penambang] yang lain terkena pemotongan kuota produksi. Karena tidak bisa beroperasi maksimal, lantas banyak yang mengurangi pemakaian alat berat dan rasionalisasi karyawan,” kata Rizal ketika dihubungi.
Dia mengungkapkan kebijakan pemangkasan kuota produksi pada hakikatnya dilakukan pemerintah untuk menjaga kestabilan harga komoditas akibat kelebihan pasokan di pasar global.
Namun, dalam realitasnya, kebijakan tersebut justru berdampak menekan terhadap arus kas dan keuntungan penambang.
Harga solar di seluruh dunia melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir seiring dengan meluasnya konflik di Timur Tengah. Hal ini menekan pasar yang sudah menghadapi pasokan rendah dan menambah beban bagi konsumen.
Harga solar bereaksi kuat terhadap konflik di Timur Tengah, sebagian karena Selat Hormuz merupakan jalur utama untuk pengiriman bahan bakar yang diproduksi di kilang-kilang terdekat.
Kendala pengiriman makin memperketat pasar global, di mana pasokan di Pantai Timur AS sudah rendah setelah musim dingin yang sangat dingin. Biaya pengiriman juga melonjak; Tarif pengiriman produk minyak dari Teluk Timur Tengah ke Eropa Barat Laut melonjak ke level tertinggi sejak 2024.
Di sisi lain, harga solar untuk kendaraan umum juga telah melonjak tinggi gegara penutupan Selat Hormuz, meskipun mulai kembali turun pada Juni.
Per 1 Juni, harga solar nonsubsidi Dexlite di SPBU Pertamina, misalnya, mengalami penurunan sebesar Rp3.000 menjadi Rp26.000/liter dari bulan lalu yang masih dibanderol sebesar Rp23.000/liter.
Harga BBM diesel lainnya, Pertamina Dex, juga turun sebesar Rp3.100 menjadi Rp24.800/liter dibandingkan dengan Mei yang masih dibanderol Rp27.900/liter.
SPBU BP-AKR juga menurunkan harga BBM jenis BP Ultimate Diesel-nya sebesar Rp500 menjadi Rp25.060/liter. Bulan sebelumnya atau Mei, harga solar di BP-AKR tersebut masih dipatok senilai Rp25.560/liter.
Operator SPBU Shell tercatat juga menurunkan harga solarnya. Shell V-Power Diesel menjadi Rp24.490/liter atau turun Rp6.370 dari bulan sebelumnya yang masih Rp30.860/liter.
(azr/wdh)
























