“Saat mendengar musik, beberapa area otak aktif bersamaan, mulai dari korteks auditori, hippocampus, amigdala, hingga sistem reward dopamin yang memunculkan rasa senang dan penasaran,” ujarnya.
Secara jangka pendek, earworm umumnya tidak berbahaya. Bahkan pada sebagian orang, fenomena ini bisa meningkatkan suasana hati, menghadirkan rasa senang, menjadi hiburan ringan, hingga memunculkan rasa kebersamaan karena mengikuti tren yang sama.
Namun, jika berlebihan, lagu yang terus terngiang dapat mengganggu fokus, menurunkan produktivitas, membuat sulit tidur, hingga menimbulkan rasa jengkel, terutama bagi orang yang sedang mengalami stres atau kecemasan.
Lahargo menegaskan hingga kini belum ada bukti kuat bahwa lagu viral dapat menyebabkan kerusakan mental jangka panjang pada orang sehat. Namun, ia mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai pola konsumsi media sosial yang berlebihan karena dapat meningkatkan distraksi dan menurunkan rentang perhatian atau attention span.
“Lagu viral itu seperti tamu yang awalnya cuma mampir, tapi karena sering dibukakan pintu oleh algoritma, akhirnya betah tinggal di kepala,” kata Lahargo.
Ia menambahkan, otak manusia cenderung lebih mudah mengingat sesuatu yang unik, lucu, berulang, mengejutkan, dan mudah diprediksi. Dalam psikologi, kondisi itu dikenal sebagai efek mere exposure, yakni semakin sering seseorang terpapar sesuatu, maka semakin akrab dan mudah disukai oleh otak.
Untuk mengurangi earworm, Lahargo menyarankan beberapa cara sederhana seperti mendengarkan lagu hingga selesai agar otak mendapatkan rasa tuntas, mengalihkan fokus dengan aktivitas yang membutuhkan konsentrasi, mengganti dengan lagu lain, serta tidak terlalu memaksa diri untuk berhenti memikirkannya.
“Semakin dipaksa untuk tidak memikirkan sesuatu, justru semakin sering muncul,” ujarnya.
(dec)






























