Menurut dia, penjagaan perdamaian merupakan cara yang terbukti dan hemat biaya untuk memulihkan stabilitas dan harapan di tengah kondisi yang tinggi konflik. Namun, kata dia, penjagaan perdamaian ini ternyata membutuhkan dukungan politik yang konsisten—serta dukungan finansial yang dapat diandalkan.
Saat ini, lebih dari 50.000 penjaga perdamaian sipil, militer, dan polisi bertugas di bawah bendera PBB di sejumlah lingkungan paling kompleks di dunia, di mana konflik semakin terfragmentasi, berkepanjangan, dan dipengaruhi oleh berbagai ancaman baru, termasuk penyalahgunaan perangkat digital dan penyebaran informasi berbahaya. Sebanyak 118 negara saat ini menyumbangkan personel berseragam untuk 11 misi penjaga perdamaian.
Indonesia merupakan kontributor personel terbesar ke-6 untuk misi penjaga perdamaian PBB. Saat ini, Indonesia mengirimkan hampir 2.000 personel militer dan polisi—termasuk 156 perempuan—ke operasi perdamaian PBB di Abyei, Republik Afrika Tengah, Siprus, Republik Demokratik Kongo, Lebanon, Sudan Selatan, dan Sahara Barat.
Majelis Umum menetapkan Hari Internasional Penjaga Perdamaian PBB pada 2002 dan memilih tanggal 29 Mei karena pada hari itu, tahun 1948, Dewan Keamanan membentuk operasi penjaga perdamaian PBB pertama, yaitu United Nations Truce Supervision Organization di Timur Tengah.
Dalam upacara khusus tersebut, Sekretaris Jenderal juga akan menganugerahkan “Captain Mbaye Diagne Medal for Exceptional Courage” kepada Kopral Matias Reyes dari Uruguay atas tindakannya di Goma, Republik Demokratik Kongo bagian timur, pada puncak krisis awal 2025; serta kepada mendiang Sergii Prykodko dari Ukraina, yang bertugas sebagai kontraktor swasta dalam Misi PBB di Sudan Selatan (UNMISS) dan gugur dalam misi mengevakuasi tentara yang terkepung pada Maret tahun lalu.
Sekretaris Jenderal juga akan memberikan penghargaan kepada Military Gender Advocate of the Year 2025, Mayor Abhilasha Barak dari India, yang bertugas di Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL), serta kepada UN Woman Police Officer of the Year, Stephanie Königs dari Jerman, yang bertugas di UNMISS.
“Pada saat konflik meningkat dan sumber daya semakin terbatas, para penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa terus melindungi warga sipil, mencegah kekerasan agar tidak meningkat, dan menjaga harapan tetap hidup di sejumlah lingkungan paling sulit di dunia. Berinvestasi dalam penjaga perdamaian berarti berinvestasi dalam stabilitas, pencegahan, dan kemungkinan terciptanya perdamaian itu sendiri,” kata Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal untuk Operasi Perdamaian.
Tahun ini, Indonesia pun sudah kehilangan empat penjaga perdamaian yang bertugas bersama Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) -- di tengah konflik Israel-Hizbullah. Mereka yang wafat tahun ini akan dianugerahi Medali Dag Hammarskjöld secara anumerta pada upacara tahun depan.
(dov/frg)





























