Fregat tersebut merupakan bagian dari misi lima bulan angkatan laut Belanda yang bertujuan untuk mempromosikan kebebasan navigasi dan keamanan maritim di Indo-Pasifik. Kapal tersebut baru saja menyelesaikan kunjungan persahabatan di Manila, di mana ia melakukan latihan bersama pasukan Filipina.
Insiden antara pasukan Tiongkok dan Belanda menunjukkan bagaimana ketegangan tetap ada di Laut Cina Selatan. Beijing mengklaim sekitar empat perlima dari perairan tersebut sebagai miliknya dan merasa geram dengan munculnya kapal perang asing.
Laut tersebut telah lama menjadi sumber ketegangan antara Tiongkok dan Filipina, dengan kedua negara mengajukan klaim yang tumpang tindih atas terumbu karang dan pulau-pulau kecil di daerah tersebut.
Komandan Rodger de Wit dari HNLMS De Ruyter mengatakan pekan lalu bahwa sebuah helikopter Tentara Pembebasan Rakyat mendekati fregat di perairan lepas pantai Filipina dalam sebuah pertemuan yang ia gambarkan sebagai "benar-benar profesional dari kedua belah pihak," menurut Manila Bulletin.
Hubungan antara Tiongkok dan Belanda menjadi tegang tahun lalu ketika pemerintah Belanda mengambil alih kendali Nexperia, pemasok utama chip canggih untuk industri otomotif dan elektronik konsumen. Perusahaan teknologi Tiongkok, Wingtech Technology Co., telah menggugat Nexperia dan pihak-pihak terkait di pengadilan Tiongkok, menuntut setidaknya 8 miliar yuan ($1,2 miliar) sebagai ganti rugi dan pemulihan kendali atas unit pembuatan chipnya di Belanda.
Menteri Perdagangan Belanda Sjoerd Sjoerdsma akan memimpin delegasi ke Beijing pada awal Juli, lapor South China Morning Post pada hari Rabu — sebuah kunjungan yang dapat mengarah pada peningkatan hubungan.
(bbn)






























