Logo Bloomberg Technoz

Menambah kompleksitas situasi, Trump dalam pertemuan di Gedung Putih mengatakan dirinya tidak akan membuat kesepakatan yang buruk dan menegaskan AS tidak akan melonggarkan sanksi terhadap Iran. Sikap itu bertentangan dengan tuntutan Teheran yang meminta penghentian serangan dan keringanan finansial. Presiden AS itu juga menghadapi tekanan dari kelompok garis keras Partai Republik agar perang terus dilanjutkan, ketika konflik memasuki bulan keempat sejak pecah pada akhir Februari.

“Pasar saat ini memperkirakan kemungkinan tercapainya kesepakatan dengan pandangan yang sangat optimistis,” kata Kepala Riset Pepperstone Group Ltd di Melbourne, Chris Weston. Namun, menurutnya, kemungkinan kedua pihak meninggalkan meja perundingan “masih menjadi risiko yang jelas.”

Di AS, kelompok industri melaporkan kembali terjadinya penurunan stok minyak mentah. American Petroleum Institute menyebut cadangan minyak mentah nasional turun 2,8 juta barel pekan lalu, termasuk penurunan di pusat penyimpanan Cushing, Oklahoma. Data resmi pemerintah dijadwalkan dirilis Kamis waktu setempat.

“Pasar minyak saat ini terlalu tenang,” kata ahli strategi energi global Rabobank, Joe DeLaura. Ia menilai pelepasan cadangan minyak strategis serta penurunan tajam impor China membantu meredam sebagian dampak berkurangnya pasokan akibat perang.

“Pada pertengahan Juli — jika China mulai kembali mengimpor ketika pelepasan cadangan strategis berakhir — kita bisa memasuki titik lonjakan tajam harga berbagai produk olahan,” katanya, menggambarkan potensi kenaikan harga yang signifikan.

Kegagalan mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik berisiko memperpanjang gangguan pasokan minyak global, yang sejak akhir Februari telah mendorong kenaikan tajam imbal hasil obligasi akibat kembali meningkatnya inflasi. Bank-bank sentral, termasuk Federal Reserve (The Fed), diperkirakan pada akhirnya akan menaikkan suku bunga sebagai respons terhadap kondisi tersebut.

Harga:

  • Brent untuk pengiriman Juli naik 2,1 persen menjadi US$96,23 per barel pada pukul 08.02 waktu Singapura.
  • WTI untuk pengiriman Juli naik 1,9 persen menjadi US$90,39 per barel.

(bbn)

No more pages